PEMIMPIN PERADABAN

Standar
PEMIMPIN PERADABAN

Oleh Hasna Fahimah (SN)

Bandung, 22 November 2016

        Pemuda adalah ujung tombak yang siap menerkam, pun bagaikan anak panah tajam yang siap melesat. Pemuda adalah mereka yang penuh idealisme, simpatik, visioner, kritis dan mempunyai semangat juang untuk memperbaiki kualitas diri dan bangsanya. Berikrar merajut sketsa perjuangan dan merangkai kepingan kehidupan serta pengalaman membangunnya menjadi sebuah aset yang tak ternilai bagi perubahan peradaban untuk bangsa dan negara.

        Kemampuan melakoni drama dalam alur cerita kegiatan sosial kemasyarakatan adalah kunci untuk mewujudkan mimpi Muslim Negarawan, sebagaimana tagline KAMMI (Jayakan Indonesia 2045).

“Muslim Negarawan adalah sosok yang mau berkontribusi kepada entitas kebangsaan dan mampu memajukan masa depan Islam sebagai proses keumatan”

     -Inggar Saputra

          Imam Syahid Hasan Al Banna, merupakan salah seorang pembaharu Islam, menegaskan bahwa :

Sejak dahulu sampai sekarang pemuda adalah pilar pilar kebangkitan. dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya. dalam  setiap fikroh, pemuda adalah pengibar panji panjinya.”

Bangun!! Jangan terus terlelap dengan tidur panjangmu.

        Kita sebagai pemuda telah dibebankan dengan tugas sejarah untuk memperbaiki kondisi Islam dan negara kita, Indonesia. Bukankah di kampus, kita diajarkan tentang kepemimpinan, integritas, karakter positif, nasionalisme dan peningkatan nilai spiritualitas untuk bekal  kita berkontribusi demi kemajuan Islam dan bangsa Indonesia?. Sejatinya Indonesia membutuhkan PERBAIKAN, dimana salah satu penopang strategisnya adalah kekuatan pemuda yang mampu membuka mata hati, fikiran,  menggetarkan jiwa, menyalakan bara api semangat dan mendorong dengan selaras langkah gerak masyarakat indonesia. Karena bangsa ini mebutuhkan uluran tangan dan gagasan-gagasan cerdas untuk menyelesaikan keresahan masyarakat. Sudah sangat jelas bukan, bahwa perbaikan adalah tradisi perjuangan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Sebagai pemuda yang bergelar “mahasiswa” yang di sebut-sebut sebagai ujung tombak perubahan tentunya mereka mempunyai amanah yang berat. Kenapa? karena mahasiswa mempunyai potensi yang sangat besar dalam perannya sebagai agent of change. tidak hanya itu, sebagai pelaku sekaligus sutradara yang dipilih dalam agen pembaharu ini tentunya kita harus mempunyai “Vission, Mission, Value, dan Meaning” yang merupakan modal untuk menjadi agen perubahan.

Strategi merupakan hal yang sangat penting. Bagaimana tidak, jika kita seorang mahasiswa sebagai agent of change tidak mempunyai planning dalam hidup, layaknya berjalan tanpa tahu arah tujuan. Karena kita hidup bukan hanya untuk saat ini saja, tetapi kita juga harus memandang jauh kedepan. Disamping itu, dalam bertransformasi kita sebagai mahasiswa dalam agen pembaharu juga tentunya harus mempunyai mental yang kokoh, layaknya tetap berdiri kokoh saat angin datang menerpa, bahkan saat hujan badai melanda. Seorang mahasiswa yang merupakan agen perubahan tentunya harus siap dengan segala kondisi apapun nantinya, segala tantangan ataupun konsekuensi yang harus dihadapi, karena sejatinya setiap perubahan pasti ada pro dan kontra. Seperti kata inspiratif mengatakan bahwa

Berdirilah sekokoh pohan. Jika kamu terjatuh, jatuhlah seperti benih yang siap tumbuh”.

-Hasna Fahimah

        Untuk itu, sebagai seorang pemuda ataupun agen perubahan sudah selayaknya kontributif, produktif dan solutif dijalankan sejak dini. Kontributif dimaknai bagaimana memberikan kemampuan terbaik, mengerahkan segala potensi yang ada untuk cita-cita untuk bangsa dan umat sehinga dapat memaksimalkan perbaikan. Produktif dimanifestasikan terus bekerja, berdialektika menciptakan karya sebagai tanggung jawab intelektualitas masyarakat ilmiah. serta solutif dengan berani mengkritisi pemikiran yang menyimpang, mampu menganalisis secara ilmiah sehingga menghasilkan suatu pemikiran baru yang mampu menyelesaikan persoalan dimasyarakat.

Wahai pemuda! Fikroh ini akan menang jika kita memiliki iman yng kuat, tulus dan ikhlas kepadaNya. serta mempunyai semangat yang berkobar-kobar, kesiapan berkorban dan beramal untuk mewujudkannya”.

-Imam Hasan Al Banna

        Merupakan paduan untuk para pemuda yang mampu membuka paradigma pemikiran. IMAN IKHLAS SEMANGAT dan AMAL, merupakan ciri khas akan seorang pemuda. Karena sejatinya dasar iman adalah hati yang hidup, asas ikhlas adalah hati yang suci, landasan semangat adalah perasaan yang kuat dan amal adalah tekad yang selalu tegar.

Anak panah pertama adalah banyak membaca. karena kualitas manusia diukur dari apa yang ia baca, semakin berkualitas bacaan seorang pemuda maka dirinya dikatakan layak memiliki kapasitas yang mampu menguatkan kompetisi diri dan bangsanya. dan kualitas suatu negara tergantung kepada para pemudanya yang semangat mencari ilmu, karena ilmu tanpa seamangat akan menjadi hujjah bagi diri sendiri.

Budaya baca ini merupakan suatu hal yang perlu mendapat perhatian serius, karena membaca juga merupakan aset strategis.

dengan seni hidup menjadi indah, dengan ilmu hidup menjadi mudah dan dengan agama hidup terarah”.

    -Buya Hamka

        KAMMI adalah ajang investasi ilmu karena disana kita mendapatkan kesempatan wisata buku pilihan sebagai Manhaj Tugas Baca atau yang kerap disapa (MANTUBA), ini merupakan salah satu proses nalar intelektual dengan mengaplikasikannya lewat budaya membaca.

Anak panah yang kedua adalah aktif menulis sebagai prodak dari proses olah fikir fenomena yang berkembang disekitarnya. Karena jika sebuah pemikiran dan tindakan dituangkan dalam sebuah tulisan maka ia akan menjadi sebuah ledakan yang amat besar. karena tinta seorang pemuda, adalah darah bagi perubahan peradaban, karenanya wahai pemuda perhatikanlah ujung penamu bergerak!. Begitupula dengan ungkapan seorang Napoleon Bonaperte bahwa :

Saya lebih takut kepada tulisan dibaningkan menghadapi ribuan pasukan perang. Sebab tulisan menghasilkan pengaruh yang luas dan bisa membuat kekuasaan saya hanya bertahan selama tiga hari saja”.

        Sangat jelas bahwa sebuah tulisan merupakan senjata tajam dalam mempengaruhi opini publik. Juga sebuah kata motivasi mengakatakan bahwa,

Jika kamu tidak bisa berperang menggunakan pedang, setidaknya berperanglah menggunakan tinta”.

        dan di KAMMI juga lah merupakan organisasi yang peduli kepada literasi yang siap memfasilitasi untuk menulis sebagai Habits.

Anak panah ketiga yaitu berdiskusi. dalam memandang suatu persoalan mahasiswa-lah merupakan elemen muda yang terbiasa mengkritik kebijakan, sangat jelas bahwa diskusi sangat amat dibutuhkan untuk menjaring pendapat, beradu argumentasi, mengolah teori menjadi tindakan dan belajar untuk saling menghargai perbedaan pendapat juga sebagai ajang untuk merumuskan langkah aksi untuk bergerak secara produktif dan sesuai nalar logis. Karena KAMMI mengajarkan bahwa meski berbeda pendapat tetap harus kokoh. dan KAMMI bergerak berdasarkan kefahaman. Kader KAMMI juga ketika akan melakukan pengkaderan, kehumasan dan kerja strategis lainnya, terbiasakan melalui kajian komprehensif serta mengacu kepada fakta kontemporer sehingga kebijakan yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

Adapun peranan strategi pemuda yang lainnya adalah kecepatan terhadap kematangan pemuda, jelas ini menyangkut keimanan dan kataqwaan seorang pemuda terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya adalah mendongkrak kewirausahaan yang dapat mencetak pemuda yang mandiri disisi lain yaitu membentuk pribadi pemuda karena sejatinya,

Jika pemuda belum mandiri secara finansial, maka ia mudah tergoyahkan oleh proyek yang sifatnya pragmatis/tergadaikan idealismenya”.

        -Moh Sohibul Iman

Kemudian yang terakhir yaitu membuat jaringan komunikasi pemuda internasional.

 

 

Firasat Angin

Standar
Firasat Angin

Oleh Gian Bakti Gumilar (Ka’ang KAMMI 2016)

“Seonggok kemanusiaan terkapar. Siapa yang mengaku bertanggung jawab? Bila semua pihak menghindar, biarlah saya yang menanggungnya, semua atau sebagiannya…”

-Syaikhut Tarbiyah, Rahmat Abdullah

        Langit hari ini terlihat sendu, senja pun buram beringsut. Kutengadahkan kepala menentang horison yang terhampar, menatap mega-mega yang luas tapi tetap diam, aku gamang. Adakah langit akan menangis hari ini, menghujani bumi yang telah tua dan mulai sakit-sakitan, aku bersama beberapa buku di tasku hanya terpaku, gamang melihat langit yang diam namun seakan berbicara dalam bahasa yang satu. Aku merasa seperti Santiago yang kebingungan di Tangier.

Tapi domba-domba itu mengajarinya sesuatu yang lebih penting: bahwa ada bahasa di dunia yang dimengerti setiap orang, bahasa yang digunakan si bocah sepanjang waktu saat dia mencoba mengembangkan hal-hal baru di toko kristal itu. Itulah bahasa gairah, menyangkut hal-hal yang dicapai dengan rasa cinta dan niat, dan sebagai bagian dari ikhtiar mencari sesuatu yang diyakini dan diinginkan. Tangier bukan lagi kota asing, dan dia merasa bahwa, sebagaimana dia menaklukkan tempat ini, dia sanggup menaklukkan dunia.1  

Ada hal yang ikut kurasakan dari desau angin yang meniup dahan-dahan pohon pisang hingga bergoyang, ah angin memang kurir yang paling kupercaya sejak lama. Penyambung firasat yang sesungguhnya, bukankah genderang perang pun terbawa oleh angin? Manusia memang tercipta paling sempurna, hanya saja mereka kurang banyak belajar dari angin.

Hari ini, kutatap meja tulisku lekat-lekat, entah aku harus berduka atau bahagia. Kucoba periksa kembali stimuli-stimuli apa yang membuatku sejauh ini, dan pembenaran-pembenaran mulai menyeruak dalam pikiranku, mungkinkah karena hatiku yang memang benar-benar sudah lurus niatnya, mungkinkah aku masih berjuang karena sesuatu hal yang fana, atau apa, atau bahkan tak ada yang kuinginkan.

Kata Prof. Beerling seseorang hanya dapat hidup selama masih punya harapan-harapan. Tapi sekarang aku berpikir sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa.2

Cinta, adalah kesimpulan yang sampai saat ini memuaskanku. Memang aku mencintai jalan ini, jalan yang entah kenapa membuat banyak senyuman, tentang perbaikan-perbaikan hidup, perbaikan-perbaikan peradaban, dan perbaikan-perbaikan wajah kemanusiaan. Dan itu juga yang mungkin dirasakan banyak orang, yang membuat mereka tetap yakin, yang membuat mereka tegar dalam cobaan, bahkan jika semua orang meninggalkan jalan ini, akan tetap ada orang yang tertatih bertahan: aku.

Namun masalahnya lokomotif haruslah gerbong yang siap mengeluarkan asap, menerjang salju dengan badannya, tetap melaju di tengah malam, dan membelah kesunyian daerah-daerah tujuan, karena dia tahu apa yang ia bawa serta seberapa besar amanah yang ia emban. Sedangkan angin itu penyendiri, ragu-ragu, dan sulit ditebak. Ketika bangsa ini berada di awal kemerdekaan, dan pucuk pimpinan adalah hal yang darurat dan sangat genting untuk segera diputuskan, ada banyak tokoh yang muncul, dan mengerucutlah pada dua tokoh yang begitu sentral: Bung Karno dan Bung Hatta. Salah satu orang itu adalah agitator ulung sejak mudanya, penuh perhatian pada rakyat seperti kepada Pak Marhaen, orang yang selalu tampil di depan dan begitu menggelora ketika berbicara. Yang satu lagi orang yang membawa berkoper-koper buku disaat kepergiannya untuk menyelesaikan studi, orang yang rela dipenjara asalkan dengan buku-buku, pemikir hal-hal kecil ketika teman sejawatnya berpikir besar ke depan. Dan jelas saja orang-orang akan memilih yang mana, dan memang dalam sejarah para agitator selalu didampingi para penasehat, walaupun mereka kadang tak sejalan. Aku berjalan dan tetap gamang, angin dengan garang menerpa ujung-ujung rambutku. Awan pekat mulai terkumpul, ritme hujan rintik seakan merasai apa yang sedang bergejolak di pikiranku. Begitu melankolik.

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang yang bertanya kenapa.3

        Pernah beberapa kali aku mengalami kondisi seperti kondisi Bung Hatta. Pernah beberapa kali kukeluarkan apa yang ada di pikiranku walau dianggap terlalu idealis. Tapi apakah aku harus menggubris rumor? Sebenarnya siapakah yang berhak memvonis kita? Apakah aku harus menjelaskan perbedaan idealis dan perfeksionis? Dan pada dasarnya kitalah yang membatasi diri kita. Kita: satu-satunya orang yang bertanggung jawab men-drive hidup kita. Sebenarnya apa yang menghalangi angin untuk berhembus kecuali kemauan dirinya dan titah Allah Swt.? Di satu sisi ketakutan-ketakutan kita tentang pengabaian, penghinaan, dan ketidakmampuan begitu kuat terasa. Dan anginlah memang yang paling tulus membawa segalanya, tak pernah ia bertanya mengapa ia harus membawa begitu banyak kondensat air dari bumi menuju kahyangan, meniupi ombak hingga sampai ke daratan, selalu fokus pada pekerjaan walau terabaikan dan terlupakan. Apakah sudah saatnya orang introvert memimpin? Mungkin kertas-kertas sudah terlalu jejal untuk kutulisi, dan wangi buku baru sudah mulai bosan kuhirup setiap hari. Adakalanya angin harus bertentu tuju, membantu menyemai tunas-tunas dandelion hingga jauh, menerbangkan layang-layang yang membuat anak-anak kolong jembatan girang.

Matahari telah hampir masuk ke dalam peraduannya. Dengan amat perlahan, menurutkan perintah dari alam gaib, ia berangsur turun, turun ke dasar lautan yang tidak kelihatan ranah tanah tepinya. Cahaya merah telah mulai terbentang di ufuk barat, dan bayangannya tampak mengindahkan wajah lautan yang tenang tak berombak. Di sana-sini kelihatan layar perahu-perahu telah berkembang, putih dan sabar. Ke pantai kedengaran suara nyanyian “Iloho gading” atau “Sio sayang”, yang dinyanyikan oleh anak-anak perahu orang Mandar itu, ditingkah oleh suara geseran rebab dan kecapi.4

        Semuanya mulai jelas sekarang, angin mulai membawa harum rumput, gemericik gerimis begitu merdu laiknya gramofon alam, sudah lama aku tak merasakan sendiri kepuitikan alam, ah begitu menyublim berlatar langit yang mulai cerah oleh sandikala berwarna jingga. Sayangnya tidak ada pelangi hari ini, yang ada hanya angin sepoi terseok-seok membawa banyak titipan rindu.

 

Catatan

  1. Paulo Coelho,Sang Alkemis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005, hlm. 46.
  2. Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran. Jakarta: LP3ES, 1983, hlm. 131 & 132.
  3. Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2015, hlm. 75.
  4. H. Abdul Malik Karim Amrullah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Jakarta: Bulan Bintang, 1984, hlm.1.

 

PERTEMUANKU DENGAN KAMMI

Standar
PERTEMUANKU DENGAN KAMMI

Oleh Arip Rahman Hakim (Kadep PENGMASY periode 2015-2016)

Bismillahhirrohmannirrohim

Assalammu’alaikum wr.wb

Sahabat, aku ingin bercerita tentang pertemuanku dengan KAMMI. Semoga cerita ini bisa mengispirasi sahabat semua untuk masuk atau bergabung dengan KAMMI.”

Singkat cerita, aku melaksanakan tugas dari himpunanku yaitu mengisi buku himpunan dengan cara berkenalan dengan kakak tingkat 2013. Pada saat itu aku baru sampai di kampus tepatnya pukul 08.00 WIB, aku berjalan dari parkiran ke arah pendopo polban menuju gedung kuliah U. Saat melewati pendopo aku melihat ada seorang kakak tingkat 2013. Langsung saja aku menghampirinya dan mengajak dia berkenalan denganku. Kita berdua melakukan percakapan yang mungkin bisa dibilang sok akrab, karena aku ingin menunaikan tugas himpunanku dengan cara mendapat biodata kakak tingkatku dan di tulis di buku himpunan. Setelah selesai berkomunikasi, dia belum mengisi tanda tangan di buku himpunanku, lalu saya bertanya, kang kok belum di tanda tangan… dengan wajah heran aku bertanya. Dia menjawab, akang akan kasih tanda tangan tapi ada syaratnya. Lalu aku bertanya, syaratnya apa kang ??? . Dia menjawab, antum harus ikut KAMMI nanti ane tanda tangan. Tanpa pikir-pikir terlebih dahulu, aku langsung bilang oke kang saya siap masuk KAMMI. Padahal saya disitu tidak tahu apa-apa tentang KAMMI, maklum masih maba. hehe

Oh iya aku lupa memperkenalkan kakak tingkat yang mengajaku masuk KAMMI. Namanya Gifari Muslih, beliau kakak tingkatku di HMRA angkatan 2013. Sejak dari situ, aku selalu diajak dan intensif di pm, mungkin ini namanya df yaa.. hehe . Saat ada DM 1 POLBAN aku gak ikutan DM, dia terus saja memfollow up aku. Singkat cerita, aku berkenalan lagi dengan kakak tingkatku, ini beda orang yaa hehe. Eh mulai sekarang aku nya diganti jadi ane aja deh biar agak enakeun. hehe

Yudha Wardana itulah nama berikutnya yang ane minta biodatanya. Ternyata kang Yudha juga aktif di KAMMI, tetapi saat ane minta biodatanya, kang Yudha tidak mengajak ane untuk gabung KAMMI, mungkin karena beliau tahu kalau ane udah di df sama kang Ghifari. Ane lupa tanggal berapa saat itu tapi tepatnya di hari jum’at, ane di pm sama kang Yudha. Rip DM 1 UIN malam ini, antum ikut kan ??? Entah kenapa seketika ane langsung jawab iya kang siap ane ikut. Hari itu juga ane persiapkan barang-barang yang harus di bawa saat DM 1 UIN. Ba’da ashar ane berangkat dari POLBAN menuju UIN, ternyata hujan pemirsa… hehe. Sungguh perjuangan yang sangat berat. Setelah sampai di UIN ane , kang Yudha dkk melaksanakan sholat maghrib karena sudah waktunya. Karena masih hujan juga, ane masih menunggu di masjid UIN. Adzan isya berkumandang, ane segera melaksanakan sholat isya berjamaah. Karena mungkin takut terlalu malam, tepatnya sekitar jam 20.00 WIB kita berangkat dari UIN menuju tempat DM 1 di daerah cileunyi. Setelah sampai disana, sumpah ane bingung dan gak tau apa-apa tentang KAMMI terus ane di tinggal sama kang yudha. 3 hari 2 malam DM 1 berjalan di UIN, sungguh ane sempat berfikir ane tidak suka dengan KAMMI, KAMMI ini berfikirnya tengtang aksi, aksi dan aksi. Mungkin karena minimnya pengetahuan ane tentang KAMMI makanya ane berfikiran KAMMI tuh mentingin aksi doang.

DM 1 UIN telah dilalui oleh ane, tapi dalam hati ane, ane gak mau aktif di KAMMI.Setelah selesai DM 1 ane di undang group UBK Masa Jihad, Pengmasy Ciwawa dll. Saat itu ane hanya menjadi silent reader saja, eh enggak ketang lebih tepatnya ane jarang mungking sampai gak pernah buka group itu. Semester 1-3 terlewati tanpa kontribusi di KAMMI, asli hidup terasa hampa . Mungkin karena di SMK ane aktif di DKM yang selalu dekat dengan masjid dan acara acara di masjid, tapi saat kuliah ane hanya dekat dengan pelajaran, mata kuliah, dosen. Sumpah ane ngerasa ada yang kurang dengan diri ane sendiri.

Awal perkuliahan semester 4 ane di pm, di telfon, di chat via line, whatsup sama seseorang yang bernama Mega Nurjannah Ahmad. Beliau nge sms panjang pisan asli, ane juga bacanya sampe gak beres 2 menit hehe. Inti dari smsnya tuh, teh Mega minta ane aktif di KAMMI. Posisi ane pada saat itu sudah menjadi Ketua Departemen Kerohanian HMRA. Ane juga bingung, takut kalau ane gak bisa ngejalanin amanah ini dengan baik karena ikut dua organisasi. Enggak tau kenapa ane juga, kok bisa mau aktif di KAMMI. Mungkin karena yang ngajaknya teh Mega dengan sms dan telfon yang bikin ane juga sedih ngedengernya, beliau single fighter di Pengmasy , kadep pengmasy nya katanya jarang aktif. Bismillah, perjalanan ane di KAMMI dimulai.

Pertama ane aktif di KAMMI langsung jadi ketua pelaksana TFT, gila nih baru juga ane masuk udh jadi ketuplak busyett dah. Tapi ane yakin dengan bantuan ALLAH SWT semua akan berjalan dengan lancar…. Nah saat itu ane aktif  sekali, mungkin karena ketuplak jadi harus aktif hehehe.. Ane mulai ngerasain kok KAMMI ada yang beda dengan organisasi lain, sumpah KAMMI ini ukhuwah nya subhanallah banget lah. Ane baru ngerasain ukhuwah seerat ini di kehidupan kampus. Disaat ane butuh bantuan, langsung ada yg respon dan bantu, fast respon lah intinya mah.

Singkat cerita TFT berjalan dengan lancar, nah ane udah mulai ngerasa betah nih di KAMMI. Ane pingin coba beberapa bulan deh aktif di KAMMI dulu. Yang tadinya mau aktif beberapa bulan, eh malah kelamaan dari planing, jadi aktif terus di KAMMI. Alhamdulillahnya ane bisa bagi waktu antara rohis himpunan dengan KAMMI karena di KAMMI ane hanya sebagai anggota pengmasy.

Banyak acara-acara pengmasy yang bikin ane makin betah, setelah TFT ada GKM, GR, PHBI, KRC dll ane ikut serta. sumpah makin betah dengan agenda di KAMMI terutama di PENGMASY. Pikiran ane yang dulu tentang KAMMI fokus di aksi, aksi dan aksi. Ternyata itu SALAH BESAR, yang ane rasakan KAMMI UBK khususnya pengmasy lebih ke aksi terhadap masyarakat, peduli terhadap masyarakat di sekitar POLBAN. Singkat cerita ane Kerja Praktek di Jakarta, sumpah ane disini jarang aktif di KAMMI mungkin karena terkendala jarak dan gak ada kuota. Setelah pulang KP ane hadir di acara Qurban yang diadakan oleh KAMMI, ane ikuti acaranya sampe beres, dan ane merasakan kembali ukhuwah yang erat di KAMMI.

Seletah qurban selesai, pengmasy mempunyai program kerja PHBI yaitu merayakan tahun baru hijriyah dengan agenda pawai obor bersama anak anak dan orang tua. Parahnya, agenda pawai obor bentrok dengan DM 1 POLBAN. Ane berusaha fokus dulu di pawai obor sampe sampe ane gak masuk kuliah karena ngurusin acara pawai obor. Tapi alhamdulillah nya dosen yg ngajar gak masuk, jadi ane gak ketinggalan pelajaran. Sungguh ALLAH SWT telah mengatur semuanya, sehingga ane gak kuliah tapi gak ketinggalan mater, Nuhun YA ALLAH…

Mulai dari nyari bambu buat obor, nyari sumbu kompor dan minyak tanah ane melakukannya sendirian, eh enggak deng nyari bambu mah bareng sama Teh Mega… Ane chat di group pengmasy, gak ada yg ngewaro. Padahal ane butuh bantuan untuk bikin obor, orang yang tadinya menjanjikan untuk datang tapi gak datang, dari situ agak sedikit kesel. Tapi alhamdulillahnya bikin obor dibantu sama temen temen dari DKM Al Hikmah dan alhamdulillahnya 60 obor bisa selesai sebelum maghrib. Setelah selesai bikin obor, ane ngerasa lelah lemes, ane lupa belum makan, waduhh sampe lupa makan gini.. Lalu ada yg pm ke ane namanya Teh Siti Sumarni, lalu ane bilang tolong beliin makanan buat ane, ane belum makan dari pagi. alhamdulillah teh siti sumarni segera datang dan memberikan makanan itu gratis, sebenernya ane gak enak tapi da teh siti ane kasih uang ganti beliau gak mau, yasudahlah rezeki .

Adzan maghrib berkumandang, ane sholat berjamaah di masjid Al-Hikmah sambil nunggu acara pawai obor dilaksanakan. Setelah sholat, ane minta temen temen pengmasy syuro untuk teknis acara pawai obor. Dan saat itu, ane sumpah kesel banget sama pengmasy. Ane pimpin syuro, tapi asa gak di hargain sama mereka. Ane berbicara panjang lebar mereka malah ikut berbicara juga, sampai-sampai saat ane berdo’a untuk kelancaran acara, mereka gak nyadar bahwa itu sedang berdo’a, sumpah kesel banget ini mah. Ane ngerasa mereka gak ngehargain ane yang berkerja keras dari pagi sampe malem untuk nyiapin acara pawai obor ini. Saat itu ane berfikiran, mungkin ane mah hanya sebagai “ban serep” digunain kalau saat ada butuhnya aja.

Sempat terfikir untuk gak akan aktif lagi di KAMMI karena masalah ini. Singkat cerita pawai obor selesai, ane dan kawan kawan langsung pergi ke tempat DM 1 POLBAN. Acara internalisasi yang membuat ane sadar tidak ada kata “ban serep” kita disini mengadakan kegitan ini mempunyai 1 tujuan yaitu JIHAD FIISABILILLAH. Saat internalisasi, ane bener bener nangis berat, karena ane baru tahu ini tujuan ane di KAMMI, dan mulai saat itu juga ane niatkan tujuan ane ikut KAMMI adalah JIHAD FIISABILILLAH, ane gak mengharapkan jabatan dan sebagainya. Intinya JIAD di jalan ALLAH SWT. Entah kenapa setelah DM 1 terlaksana, ane dapet kabar kalau ane mau diangkat menjadi Ketua Departemen Pengembengan Masyarakat. Ane sempat menolak, karena ane udh punya amanah dari HMRA yg harus dilaksanakan.

Sampe diajak ngobrol bareng, di pm via sosial media, ane tetep nolak untuk menjadi Kadep Pengmasy. suatu hari, ane hadir pada syuro reshufle kabinet yang bahasannya ternyata tentang penggantian Kadep yang lama dengan Kadep yang baru. Nama ane di sebut dalam syuro itu sebagai calon kadep pengmasy. ane sempat berargumen dengan forum. tetapi pada akhirnya, ane serahkan keputusan kepada forum, dan keputusan forum setuju kalau ane jadi kadep. Bismillah Innalilali itu yang ane di hati ane, satu sisi ane senang karena udah gak jadi ban serep lagi di pengmasy, tapi di satu sisi terdapat amanah yang sangat bersar yang harus dijalankan. Tapi ane ingat dengan tujuan ane masuk KAMMI, “JIHAD FIISABILILLAH” itulah kata-kata yang membakar semangat ane untuk tetap berusaha maksimal dalam setiap agenda KAMMI. Itulah sedikit cerita yang bisa ane sharing, kita ambil hikmahnya saja, yang jelek-jelek mah buang aja.

“Pesan saya untuk para pembaca, janganlah menilai suatu organisasi dari luarnya saja. Karena jika menilai dari luarnya saja, maka itu salah. Antum harus terjun dan rasakan atmosfir yang ada dalam organisasi tersebut, barulah antum menyimpulkan organisasi ini seperti apa. Dan janganlah antum baperan, dicuekin dikit sama temen di KAMMI langsung bilang gak akan aktif. Ingat Akhi Ukhti, tujuan kalian di KAMMI hanya satu yaitu  JIHAD FIISABILILLAH. Antum harus ingat pada saat antum ikrar di acara internalisasi.

JIKA ADA 1000 ORANG YANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH, MAKA SALAH SATUNYA ADALAH AKU

JIKA ADA 100 ORANG YANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH, MAKA SALAH SATUNYA ADALAH AKU

JIKA ADA 10 ORANG YANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH, MAKA SALAH SATUNYA ADALAH AKU

JIKA ADA 1 ORANG YANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH, MAKA  ITU  ADALAH AKU

DAN JIKA TIDAK ADA SEORANGPUN YANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH, SAKSIKANLAH YA ALLAH, AKU TELAH MATI SYAHID…

ALLAHUAKBAR !!!!!!!

 

Terimakasih

Wassalammu’alaikum wr.wb

RIHLAH KAMMI UBK DI CIC BANDUNG

Standar

rihlah 2015

BANDUNG- Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Umar Bin Khattab menyelenggarakan agenda rihlah pada awal semester kemarin. Kegiatan rihlah ini diikuti oleh mahasiswa yang telah menjadi Anggota Biasa 1 (AB 1), maupun Anggota Biasa 2 (AB 2).

Acara rihlah tersebut dibuka oleh perwakilan dari departemen kastra kammi ubk. rihlah yang terdiri dari ikhwan dan akhwat ini selanjutnya dibagi menjadi 4 kelompok. Peserta kemudian diajak bermain games yang sudah dirancang oleh panitia, di antaranya adalah peserta harus melewati tantangan dan berjalan pada jalan yan terjal dan berliku namun harus tetap dalam keadaan bersama. Setelah itu di akhir acara peserta melakukan tukar kado kemudian disusul dengan sharing tentang pengalaman ataupun kesan – kesan selama di KAMMI. Setiap games itu mempunyai hikmah masing-masing, seperti melatih kepemimpinan, konsentrasi, strategi, tidak mudah menyerah dalam menghadapi sebuah masalah, dan melatih kekompakan masing-masing tim.

“HIKMAH” Oleh Sani Ahmad Apandi (Wirus 2013)

Standar

“ HIKMAH “

Ramadhan, sebuah simbol keberkahan dimana telah dibukakannya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka. Ada hal yang begitu berbeda diramadhan kali ini, begitu berbeda sehingga membuat begitu bersyukurnya saya, bukan hanya bersyukur semata karena telah disampaikan umur untuk menemuinya, bukan hanya bersyukur semata karena masih diberi kesehatan untuk menjalankannya, lebih dari semua itu, karena bulan ramadhan kali ini, telah memberikan rasa takjub yaitu dengan hikmah titik balik kehidupan saya. Hikmah yang telah membuat terbukannya pikiran bahwa begitu kecilnya saya, hikmah yang telah membuat rasa takut yang amat akibat hal yang dilakukan dimasa lalu, hikmah yang telah membuat untuk terus berusaha sebaik mungkin beristiqomah dan memperbaiki diri serta hikmah bahwa begitu Rahman dan Rahim nya Allah swt.

Begitu misteriusnya memang kehidupan ini, hingga dalam sekejappun semuanya bisa berubah. Tentunya semua itu tak lepas dari kehendak sang kholiq. Allah menghendaki atas perubahan seseorang dan Allah pun menghendaki untuk membuat seseorang tetap berada dalam kesesatannya.

Orang yang pernah merasakan hidup dalam kegelapan akan sangat berbeda dalam memaknai setiap kesempatan yang diberikan oleh Allah swt. Hal ini akan memberikan pola pikir lain dalam kehidupannya. Seseorang yang merasakan ini akan berusaha sebaik mungkin untuk memanfaatkan waktunya dalam rangka memperbaiki dirinya. Apapun yang mereka hadapi akan disandarkan atas kesalahan luar biasa dimasa lalu yang mereka tak ingin mengulanginya lagi. Sulit bukan main dalam melewatinya. Mereka harus bisa keluar sendiri dari dalam lingkar kebiasaan yang sangat mereka senangi bahkan yang sangat berharga dikehidupannya.

Di titik inilah saya merasakan suatu hal yang menakjubkan. Dari segala kesalahan yang pernah diperbuat, dari segala kebodohan yang selalu dijalani. Saya mulai sadar bahwa ada hal yang terus memperingati dan berusaha memberitahukan bahwa saya harus segera berada dalam jalur yang semestinya. Dan mungkin inilah cara unik Allah sebagai salah satu bukti begitu Rahman dan Rahim nya Ia kepada seluruh makhluknya, yaitu dengan hikmah.

Mereka yang diberi hikmah adalah mereka yang akan cepat sadar bahwa hidup ini ada yang mengawasi. Mereka tahu ada suatu hal dibalik semua peristiwa yang terjadi dalam hidup yang mereka tak dapat memungkirinya. Mereka sadar bahwa dari semua yang tercipta dan terjadi di alam semesta ini semata mata untuk memberikan pelajaran bahwa begitu Agung dan Maha Besar nya Allah swt. Inilah hal menakjubkan itu kawan, hikmah yang membuat bertambahnya iman dan rasa cinta kepada Sang Kaliq, Allah swt, Tuhan semesta alam…..

Semoga dibulan yang suci dan berkah ini, kita senantiasa tetap diteguhkan hatinya untuk selalu taat kepada Allah, jangan pernah berputus asa atas rahmat dan KaruniaNya serta terus berusaha untuk memantaskan dan memperbaiki diri..

Wallahu a’lam bishoab. . . . . .

Biodata singkat

Sani Ahmad Apandi, anak ke 2 dari 3 bersaudara ini adalah pribadi yang pendiam namun antusias dan begitu berambisi. Keinginanya adalah menjadi seorang pengusaha muslim muda yang sukses yang bisa membiayai pendidikan bagi anak anak yang kurang mampu serta bermanfaat untuk semua orang. Sekarang sedang menempuh pendidikan di Politeknik Negeri Bandung jurusan Teknik Konversi Energi dan aktif di organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia ( KAMMI ).

“Ramadhan Terakhir” oleh Mochammad Dzikri Taufik (Kastra 2013)

Standar

“Ramadhan Terakhir” oleh Mochammad Dzikri Taufik (Kastra 2013)

Bulan Suci Ramadhan, bulan di mana pintu surga dibuka selebar lebarnya dan pintu neraka diharamkan bagi orang orang yang beriman dan bertaqwa. Bulan disaat kesepian pecah oleh lantunan ayat ayat suci di setiap masjid, mushola, langgar dan surau. Serta malam menjadi waktu yang paling tepat untuk mengharap dan mendekat lebih intim dengan sang Pencipta. Bukan hanya itu, silaturahmi terjaga dalam hangatnya dekapan ukhuwah, dalam indahnya berbagi dan rindangnya nasehat – menasehati. Betapa bulan ini sangat dirindukan. Ramadhan 1436 Hijriyah juga menyisipkan sejuta rindu untuk ayah dan ibu di sana. Ada rekaman peristiwa dan kehangatan ketika berbuka bersama keluarga. Semoga Allah menjaga dan mempertemukan kami setelah menyelesaikan tugas dan kewajiban kami disini.

Ada setumpuk siang yang akan menjadi fasilitas dalam beraktivitas. Ada sejumlah malam yang akan menjadi teman dalam kerinduan. Ramadhan tahun ini, memberikan banyak arti. Memberikan banyak hal yang perlu dijadikan introspeksi diri. Ramadhan bukan sekedar kewajiban, ramadhan adalah madrasah besar bagi orang orang yang pandai memanfaatkan. Ramadhan menjadi titik tolak, bagi mereka yang hendak merevisi cerita dan kisah, keluh dan kesah, serta penat dan lelah. Namun, hati kadang miris, terasa seperti teriris melihat kawan kawan mulai terjebak dalam hedonisme yang tak tahu aturan, yang justru dilakukan dibulan di mana pahala diobral dan benar benar dibagikan, bulan ramadhan. Saya tidak merasa diri saya sebagai orang yang pandai memanfaatkan secara keseluruhan ramadhan. Saya hanya mengingatkan diri saya sendiri dan teman teman pembaca yang setidaknya adalah saudara bagi saya, saudara satu agama. Kaum muslimin dan muslimat dimanapun anda berada.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antar kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertawakalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat” (QS. Al-Hujurat:10)

Manusia terlahir ke dunia dengan menggenggam batas usia yang dituliskan oleh-Nya. Menghirup nafas kebenaran, tak jarang bau-bau kemunafikan beserta dengannya. Tak sedikit bentuk kesucian harus ternoda oleh jebakan yang gelapkan mata, fatamorgana kehidupan namanya. Salah dan keliru menjadi penyadar bagi diri, bahwa kita manusia biasa. Allah selalu memberikan kesempatan yang mungkin terabaikan. Dimana lagi kesempatan sebaik baiknya kesempatan ? disini adalah waktu dan tempat yang tepat untuk memperbaiki kesalahan, sekali lagi Ramadhan namanya.

“wahai orang orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Al-Baqarah : 183).

Melalui salah satu ayat cintanya di atas, Allah menjadikan Ramadhan sebagai kendaraan menuju taqwa. Menjadi bengkel iman, dengan segala rutinitas dan malam malam yang memiliki berjuta kenikmatan ruhiyah. Beruntunglah bagi kita yang diberikan kesempatan umur, kesehatan dan iman yang masih terjaga hingga saat ini. Sehingga nikmatnya ramadhan masih dapat dirasakan dengan penuh kegembiraan. Namun perhatikan teman teman kita atau saudara saudara kita yang sudah lebih dulu menghadap Al-khaliq. Dicabut kesempatannya dalam menuai amal dalam hidupnya, termasuk menuai amal dibulan yang indah ini. Semoga Allah mengampuni segala kesalahan dan menerima amal amal yang pernah dilakukan semasa hidupnya. Serta menjadikan ini sebagai alarm bagi kita yang masih diberikan nikmat untuk menjalankan ibadah ini dengan sebenar benarnya.

Puasa, bukan hanya sekedar menunda makan dan minum. Terlalu sempit apabila definisi itu dijadikan dasar berpikir kita dalam berpuasa. Bahkan kambing, sapi dan unta pun mampu berpuasa. Namun akankah kita samakan diri kita dengan mereka. Tidak kawan, kita adalah manusia, sebaik baikya makhluk ciptaannya yang diberikan akal dan fikiran, nafsu dan naluri.

“Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik baiknya,”(QS At-Tiin:4)

Kini durasi Ramadhan semakin berkurang, namun makna dan kekhusukan berbanding terbalik dengannya. Semakin mendekati habis, semakin khidmat bagi orang orang yang enggan melepaskan ramadhan begitu saja. Masih ada magfirah disetiap malamnya, seolah tak pernah henti aliran pahala pahala di bulan suci ini. Apa jadinya ketika pemandangan masjid, mushola, langgar dan surau kini mulai sepi pengunjung ? jalan jalan menuju rumah Allah mulai lengang dari lalu lalangnya pengejar pahala. Kini giliran rumah makan, mall, pasar dan tempat tempat hiburan yang dimakmurkan. Ketika shaf sholat tarawih kini mulai longgar, tak ada lagi telapak telapak kaki yang merapat bagai benteng kokoh yang sulit untuk dirobohkan. Sedangkan rumah makan mulai kebanjiran tamu oleh adanya agenda tahunan yang biasa disebut bubar, bukber, iftor jama’ah, atau apapun namanya. Yang dianggap sebagai moment melampiaskan rindu pada kawan kawan lama yang kini telihat berbeda, yang dianggap sebagai memperkuat talipersaudaraan. Atau justeru sebagai ajang memamerkan status masing masing individu sebagai mahasiswa “universitas ternama” ?, bahkan bisa jadi ajang maksiat bersama kawan kawan lama ? karena biasanya (tidak menunjuk seluruhnya) konten acara buka bersama yang disodorkan adalah tawa dan saling bercerita disertai narsisme yang belebihan yang hasilnya siap diunggah di media sosial dengan hashtag “#BukaBersamaKawanLama”. Lalu bagaimana kabarnya sholat magrib ?, ya mungkin akan menjadi cerita bagi masing masing individu, ya sekedar cerita kosong yang dibalut perasaan pura pura lupa. Atau mereka yang masih menunggu senja menuju waktu berbuka dengan berkhalwat ?. Mungkin menurutnya hal tersebut adalah cara paling tepat untuk menghabiskan waktu puasa, ya sekedar menghabiskan waktu menahan lapar dan dahaga ,mereka mungkin lupa bahwa nafsu pun perlu dijaga. Lalu bagaimana kabar Al-Qur’an ? yang baru beberapa lembar menghiasi waktu sore menjelang berbuka. Kemudian mereka muda-mudi yang meramaikan malam-malam ramdhan dengan kongkow-kongkow di cafee mewah ala anak muda Amerika. mengisi perut yang sebenarnya sudah penuh terisi, hanya karena gengsi dan tak ingin dianggap bukan anak gaul masa kini. Dan terbuanglah makanan yang tak sanggup lagi dikonsumsi. Lantas bagaimana kabar orang orang di pinggir jalan sana?, orang orang di pelosok desa yang menunggu datangnya makanan enak dan lezat dari tangan tangan dermawan ? Apakah mereka lupa untuk mengingat tentang ini, mereka lupa tentang berbagi dan memberi ?

Jangan sia siakan ramadhan ini, siang dan malamnya adalah sarana terbaik bagi kita manusia penuh noda dan dosa. Apakah kita yakin esok atau tahun selanjutnya akan hidup seperti halnya saat ini ?. Umat Rasulullah memiliki usia tak lebih dari 63 tahun atau bila Allah memberi usia lebih adalah bonus kesempatan untuk menuai amal lebih banyak. Tetapi bagaimana bila mati sebelum 63 tahun ? 30 ? atau bahkan 20 ?. Akankan hari ini menjadi bulan ramadhan terakhir bagi kita ? menjadi bulan penuh ampunan yang terakhir bagi kita manusia penuh bau busuk noda dan dosa ?. Mari kawan, sebelum Ramadhan meninggalkan kita di tahun ini. Sebelum Allah mencabut kesempatan ini untuk selama lamanya. Tak rela rasanya bila ramadhan harus berlalu begitu saja, atau berlalu dengan kegiatan hampa makna.

Selama masih ada kesempatan ini, langkahkan kaki menuju perubahan diri. Menuju tempat tempat yang di Ridhoi. Tadahkan tangan untuk mengharap ampun pada Allah Ta’ala. Rendahkan diri dihadapanNya sebagai makhluk penuh dosa. Titihkan air mata penyeselaan dan kekhawatiran apabila ramadhan ini menjadi ramadhan terakhir bagi kita. Akankah kita bertemu dengan Orang tua di rumah dengan suasana Ramadhan yang sama ? atau Ramadhan selanjutnya kita berada di ruang sempit dan gelap, di dalam tanah? . diiringi penyesalan dan tangis tanpa henti atas kesempatan yang terbuang percuma. Wallahua’lam bisshowab.

Riwayat singkat Penulis

Mochammad Dzikri Taufik, Lahir pada tanggal 30 Mei 1995 di sebuah kota kecil di wilayah pantura, Kota Cirebon, Jawa Barat. Nama kecilnya adalah Dzikri, atau orang tua di rumahnya biasa memanggilnya Kiki. Dzikri memiliki riwayat pendidikan diantaranya, TK Tunas Karya Kota Cirebon (2000-2001), SD Negeri Taman Kalijaga Cirebon (2001-2007), SMP Negeri 7 Kota Cirebon (2007-2010), SMA Negeri 6 Kota Cirebon (2010-2013) dan Politeknik Negeri Bandung (2013-sekarang).

Dzikri adalah anak ke 2 dari 3 bersaudara dari ibu bernama Imas Rohaeni dan ayah Taufik Tjarmadi. Dilihat secara fisik memang tidak terlalu tampan, tapi ketahuilah Mochammad Dzikri Taufik punya mimpi mimpi untuk mapan. Gaya kesehariannya terbilang sederhana dan cenderung enggan dianggap sama dengan pemuda sekitarnya. Penulis adalah pemuda sederhana, tak ada kelebihan padanya.

Motivasi penulis dalam mengikuti lomba essay ini adalah karena penulis teringat dan termotivasi dengan pernyataan Imam Syafi’i “Jika kamu bukanlah anak seorang raja, bukan juga anak seorang Ulama besar. Maka jadilah seorang penulis”. Penulis memang bukanlah seorang ahli sastra bahkan bukan penulis profesional yang biasa menerbitkan tulisannya di majalah, koran atau surat kabar. Bagi penulis, menulis bagaikan menari diatas awan, tanpa iringan musik. Namun jiwa tetap mengalir, seiring dengan udara yang berhembus silih berbisik pada nurani.

Created By Departemen Medfor KAMMI UBK

ESSAY-KU ESSAYMU ESSAY KAMMI

Standar

Assalamualaikum Wr.Wb

Selamat kepada Mochammad Dzikri Taufik Azzah Muzayyanah Sani Ahmad Apandi pemenang lomba menulis essay tema “Coretan Seputar Ramadhan” “Memaknai Ramadhan” yang diselenggarakan perdana oleh departemen Medfor Dalam Kammi semoga hasil dari kegiatan lomba ini dapat memacu yang lain untuk semakin kreatif dalam menulis, insyaallah karya nya bermanfaat :) ‪#‎SpiritMuslimNegarawan‬ #DariKAMMIUntukNegeri

Untuk melihat tulisan peserta yukkk cek di postingan berikutnya🙂