Khazanah Baghdad

Standar

Khazanah Baghdad

Oleh : Gian Bakti Gumilar (KAMMI 2016)

135467

Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.”

-Amirul mu`minin, Umar ibn Khattab

            Di dalam perpustakaan raksasa itu berjejal buku-buku yang terkumpul dari berbagai zaman dan wilayah dengan begitu eloknya. Orang-orang terpusat dengan tiga kegiatan, yaitu membaca, menulis, serta menerjemahkan, sedangkan ruang diskusi dipisahkan karena kata-kata yang terlontar biasanya hasil dari tiga kegiatan awal. Rak-rak buku menjulang dan berjejer tanda supremasi pengetahuan beserta nama-nama yang mendirikannya. Yang paling ramai dikunjungi ialah Khazanah Ar-Rasyid dan Khazanah al-Ma`mun. Terlepas dari sudah banyak melencengnya penggunaan kata khazanah di kalangan kita, secara etimologis khazanah merupakan kata yang mewakili sebuah benda yang patut disimpan, dijaga karena nilainya bagi sang pemililk. Maka alasan etimologis inilah yang mungkin membuat khalifah menamai almari buku sebagai khazanah, dan alasan yang sama pula mungkin yang membuat Baghdad menjadi poros peradaban dunia saat itu.

Zaman penerjemahan dalam arti yang sebenarnya baru dimulai pada zaman daulat ‘Abbasiyyah. Khalifah ‘Abbasiyyah yang bernama Al-Manshur membangun kota Baghdad yang kemudian menjadi mercusuar di timur dan jantung dunia Islam dalam kurun waktu yang amat panjang. Dari Jundisabur, Al-Manshur mendatangkan Jirjis bin Bakhtaisyu’ (148 H) kemudian diangkat sebagai kepala team dokter istananya sampai ia (AI-Manshur) wafat pada tahun 150 H. Anak lelaki Al-Manshur yang bernama Al-Mahdi tetap mempekerjakan Bakhtaisyu’ di istananya hingga zaman Al-Hadi dan Ar-Rasyid. Anak lelaki Bakhtaisyu’ yang bernama Gabriel juga menjadi seorang dokter dan bekerja di istana Ja’far Al-Barmaki dan tetap dalam pekerjaan itu hingga zaman Khalifah Al-Ma’mun. Ja’far Al-Barmaki meninggal dunia pada tahun 213 H.1

            Baitul Hikmah adalah sebuah kesadaran bahwa kemajuan pasti akan Allah pergilirkan di antara bangsa-bangsa. Proses penerjemahan buku-buku ke dalam bahasa Arab membuat kegiatan ilmiah menjadi gegap gempita. Tak terbayang begitu banyak manusia berjalan kaki menuju Baghdad hanya untuk berdiskusi langsung dengan para Ikhwanush Shafa, mendelegasikan sarjana-sarjana terbaik hanya untuk melihat bagaimana sebenarnya para mufti bekerja. Saat itu Baghdad menjadi kota terbesar dengan 3 juta penduduk, mengungguli Ch’ang-an ibu kota Dinasti T’ang di Tiongkok.

           Seperti yang dikisahkan pada kitab Azwaajul Khulafaa` karya Syaikh Raji’ Kinas dan dikutip oleh Ust. Salim A. Fillah pada salah satu tulisannya, bahwa ada seorang Arab Badui yang dihadapkan pada Khalifah Al-Manshur dan diminta untuk mengisahkan perjalanannya ke berbagai negeri, demi menyimpulkan: “Tiada yang semegah Baghdad”. Namun yang unik seperti laiknya sifat Badui yang blak-blakan, sang juru kisah memang mengakui kemegahan Baghdad namun mengadu tentang sulitnya bertemu sang khalifah, lalu ia berkisah dengan semangat tentang Sang Kaisar yang memimpin Ch’ang-an yang sudah lanjut usia bahkan seiring berjalannya waktu Sang Kaisar mulai kehilangan pendengarannya namun tetap mendatangi rakyatnya dan menyuruh orang-orang agar memakai baju merah dan menuliskan keluhan pada kertas agar ia dapat membacanya. Terlepas dari perjalanan berliku sang pembangun Baghdad menjadikan kotanya sebagai mercusuar peradaban, sebuah kemegahan akan selalu melahirkan sebentuk kemarjinalan. Bayangkan saja Baghdad saat itu memiliki benteng terluar setinggi 40 meter, jari-jari bentang kotanya 20 mil, lebar bagian atas tembok kota itu dapat dilewati 4 kereta perang sekaligus berjajar. Ke arah dalam istana masih ada 6 tembok lagi, Madinat As-Salam tempat tinggal sang penguasa menjulang tinggi di pusat kota. Untuk sampai ke dalamnya harus melewati 40 lapis penjaga.2

        Baghdad seperti pendahulu-pendahulunya memilki kerling dan denyar, perbedaannya apa yang dipunyai Baghdad adalah hasil akumulasi yang terjadi di Jundisabur, kumpulan-kumpulan kearifan dari Iskandariyah, serta kegemilangan perguruan Athena. Maka kita yang mempelajari sejarah sudah tak perlu lagi berdebat tentang dari mana awal mula embrio semangat Renaissance, selain faktor keluarga Medici dan jatuhnya Konstantinopel, giatnya penerjemahan buku ke bahasa Italia membuat Firenze dijuluki ‘Athena di Barat’. Sejarah pada intinya mengajarkan kita bagaimana tahapan jika kita ingin membangun sebuah peradaban, dan kegiatan literasi masyarakat adalah salah satu indikatornya.

       Posisi kelas saya saat 1 SMP persis bersebelahan dengan perpustakaan sekolah. Ada banyak kesenangan sebenarnya saat itu, selain mengusili bapak penjaga perpustakaan yang masih muda, ada satu buku yang sangat saya suka, semacam ensiklopedi tipis tentang Arthropoda dimana lembarannya sudah berwarna kuning dan lusuh. Dari buku itu saya tahu bahwa ada laba-laba sebesar satu ubin keramik, ada juga lipan yang hampir sepanjang lengan, membayangkannya saja saya sering merinding, terlebih ketakutan saya pada kecoa saat masih kecil sangat mengkhawatirkan dan belum sepenuhnya dapat disembuhkan. Dari buku itu saya juga tahu perpustakaan sekolah memang butuh peremajaan. Benar saja, beberapa bulan setelahnya di depan perpustakaan menggunung buku-buku, ada yang sudah dikemas dan diikat oleh tali rafia, ada yang dibiarkan begitu saja berserak, yang jelas hal ini tak seperti peremajaan dalam benakku. Tadinya sempat terpikir untuk mencoba mencari buku itu tapi debu-debu yang tercipta di depan perpustakaan terlalu pengap untuk dilalui, sempat bertanya juga pada pustakawan apakah buku-buku ini akan diloak, namun tidak ada jawaban. Pada akhirnya perpustakaan sekolah menjadi lebih dominan terisi oleh buku paket, buku-buku pencitraan pemerintah, kamus 500 milyar, dan komik Doraemon, ya walaupun masih ada Bulan Bugil Bulat dan Gitanjali. Hah. Mungkin inilah yang membedakan perpustakaan sekolah saya dengan Centre Library Seattle atau Bibliothega Alexandria misalnya. Atau secara lebih dalam yang membedakan kita dengan Baghdad saat masa jayanya, yaitu perlakuan kita terhadap buku.

***

            Tidak pernah akhir tahun sekelabu ini, sejak November 1257 ultimatum dikirim. Langit Baghdad begitu muram, aura kematian begitu kuat tercium, Hulagu Khan meminta agar Khalifah Al-Musta’shim segera menyerah namun kita ketahui sikap sang khalifah yang membuat Hulagu naik pitam. Baghdad dikepung, kedua sisi Sungai Tigris telah penuh oleh pasukan yang siap dengan strategi manuver untuk menjepit kota. Pasukan Mongol dari barat sempat dipukul mundur, namun tak ada yang bisa menghentikan serangan selanjutnya. Tanggul-tanggul dihancurkan sehingga air membanjiri pasukan khalifah dari belakang, sehingga banyak yang mati tenggelam. 5 Februari 1258, benteng-benteng strategis telah dikuasai yang membuat tak ada alasan bagi Baghdad bertahan dan resmi menyerah pada 10 Februari. Tiga hari kemudian invasi ke kota dimulai, diwarnai jeritan-jeritan pilu dan tangis darah. Hanya dalam waktu seminggu Baghdad yang indah menjadi rata dengan tanah, dari Masjid hingga rumah sakit semuanya hancur karena kebengisan manusia berhati binatang. Perampokan, penjarahan, pembakaran, pemerkosaan, terjadi di se-antero kota. Sungai Tigris kini berubah warna menjadi hitam bercampur merah pekat. Hitam dari tinta buku-buku yang dibuang ke sungai, dilempar, dan abu hasil pembakarannya dilarung bersama almari-almari yang berukiran indah. Merah pekat dari darah para syuhada, warga kota yang dibantai dengan sadis dan tak terhitung jumlahnya yang meyebabkan bau anyir merebak hingga ke sudut-sudut kota. Walaupun Baghdad tetap berdetak hingga ke-khalifahan selanjutnya bahkan hingga kini, tak pernah kita temukan kejayaan yang sama, karena kita tahu apa khazanah Baghdad yang sesungguhnya.

Catatan

  1. Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1985, hlm. 33.
  2. Salim A. Fillah, “PENGADUAN (Bag. 1)”, SALIMAFILLAH.com: Rajutan Makna, (salimafillah.com/pengaduan-bag-1, diakses pada 15 Januari 2017)

Aku dan Dakwah

Standar

Aku dan Dakwah

Oleh : Fitri (KAMMI 2015)

132430

          Dakwah adalah kegiatan memanggil, mengundang, mengajak dan menyeru untuk mengikuti suatu pemikiran, mengusung suatu tujuan ke jalan Allah SWT, yang dilakukan oleh daí (penyeru) dengan tujuan memindahkan madú (penerima dakwah) pada keadaan yang lebih baik dan diridhoi Allah SWT.

Menjadi seorang daí adalah amanah yang diberikan oleh Allah SWT kepada setiap orang sebelum seseorang itu menjadi apapun profesinya. Orang yang ditugasi dalam berdakwah bukan hanya orang yang sudah hafal 30 juz, lulusan universitas islam dan anak dari ustad atau ustadzah A dan B, tapi tugas dakwah ini adalah untuk seluruh umat manusia pengikut Nabi Muhammad SAW.

Sampaikanlah walau hanya satu ayat” (H.R. Bukhari)

Hadits tersebut menerangkan bahwa berdakwah bisa dilakukan oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun.

Dakwah adalah cara yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para Rosul yang lain, untuk menyampaikan kehendak Allah SWT, dan menyeru manusia agar selamat dunia dan akhirat. Tanpa adanya dakwah maka dunia ini akan gelap, tidak tau arah tujuan hidup, tidak tau fungsi penciptaan alam semesta (manusia, hewan, tumbuhan, tata surya dsb), dan tidak tau bagaimana interaksi yang seharusnya dilakukan oleh yang diciptakan dengan Allah SWT (yang menciptakan).

Meskipun dakwah ini boleh dilakukan oleh siapapun, namun pemahaman akan ilmu yang disampaikan tetap harus dicari. Pada dasarnya berdakwah harus disertai ilmu dan pembelajaran yang baik dan benar.

Banyak hal yang didapatkan dijalan dakwah ini, bukan hanya kesenangan yang didapatkan, kesedihan terkadang menyertai. Namun, pada saat itu merasakan dekatnya dengan sang pencipta, dan semakin kagum dengan Rasulullah SAW disaat membela agama islam. Dakwah adalah sarana passive income atau amal jariyah.

Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang berdoá kepadanya.” (H.R. Muslim)

Saat seseorang berdakwah, maka ada ilmu yang disampaikan, ada ilmu yang bermanfaat diajarkan. Selama orang-orang yang pernah mendapatkan ilmu itu terus beramal, maka pahala bagi yang berdakwah juga akan terus mengalir tanpa mengurangi pahala yang melaksanakannya, meskipun ketika kita sudah meninggal.

Indahnya tali persaudaraan diantara sesama pejuang dakwah atau seringkali disebut dengan manisnya ukhuwah selalu menyertai di setiap perjalanan para pendakwah. Persaudaraan yang semakin meningkatkan keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dijalan dakwah inilah, persaudaraan, persahabatan dan pertemanan menjadi lebih berarti, karena semuanya dilandasi dengan “Lillah …”

Waktu yang harus diluangkan untuk berdakwah, bukan menjadi penghambat bagi kegiatan-kegiatan yang lainnya. Ketika seseorang berjuang di jalan Allah SWT, maka segala urusannya biarlah Allah yang mengaturnya, kemudahan akan dia dapatkan.

Jalan dakwah ini tidak ditaburi dengan bunga-bunga yang indah seperti di taman-taman kota, tetapi jalan dakwah ini merupakan suatu jalan yang sangat susah dan sangat panjang perjalanannya. Dakwah adalah memperjuangkan yang hak dan memberantas yang batil. Dakwah memerlukan kesabaran dan ketekunan, karena sesungguhnya dakwah adalah hal yang berat, maka sedikit orang-orang yang bertahan di jalan ini. Dakwah memerlukan kemurahan hati, pemberian dan pengorbanan tanpa mengharapkan hasil yang segera tanpa putus asa dan putus harapan. Dakwah memerlukan usaha dan kerja yang tiada putusnya, lalu hasilnya diserahkan kepada Allah SWT di waktu yang dikehendakinya.

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (Q.S. Al-Qashash : 56)

Berdakwah tidak hanya dilakukan di mesjid ketika khutbah jumát atau selesai sholat, berdakwah tidak hanya dilakukan disebuah stasiun televisi dalam program keislaman, dan berdakwah tidak hanya dilakukan oleh seorang dosen atau guru agama di dalam kelas. Namun berdakwah bisa dimulai dari hal yang kecil seperti mengajak teman untuk sholat dhuha, men-share taujih dari official account keislaman kepada grup sosial media, mengikuti organisasi keislaman di sekolah maupun di kampus dan aktif dalam kegiatan-kegiatan agama islam yang lainnya seperti mentoring.

Dakwah telah merubah hidupku menjadi lebih baik.

Dakwah mendekatkan ku dengan Sang Maha Pencipta.

Dakwah mengajariku apa itu ukhuwah.

Dakwah mengajariku pentingnya amal jamaí

Dakwah mengajariku menjadi hamba yang ikhlas terhadap setiap ketentuan-Nya.

Dakwah mengajariku tentang ketekunan dan kesabaran menanti kemenangan.

Dakwah mengajariku untuk membalas keburukan dengan kebaikan.

Dan dakwah mengajariku bagaimana menjadikan dunia ini ada dalam genggaman

tanganku…bukan pada hatiku…

Dan jalan inilah yang kupilih, bagaimana dengan mu?

 

REFERENSI

Buku Super Mentor (M. Arief Rahman)

Buku Qowaídud Da’wah Ilallah (Dr. Hammam Abdurrahim Said)

Buku Jalan Dakwah (Mustafa Masyhur)

http://www.dakwatuna.com

 

Sahabat Terbaik Rosulullah

Standar
Sahabat Terbaik Rosulullah

Kenal dengan sahabat terbaik rosulullah ?

Ya, Abu bakar Asshidiq.

Anda tidak perlu membaca sampai selesai kalau bisa memjawab beberapa pertanyaan sederhana ini.

1. Siapa nama asli beliau ?

  1. Apa saja keutamaan dari beliau ?
  2. Kenapa beliau yang paling layak dibanding para sahabat mulia yang lain seperti umar bin khatab ?
  3. Siapa saja sahabat mulia yang mendapat hidayah lewat perantara beliau ?
  4. Apa yang membuat seorang pendeta berkata kepada tentara islam pada waktu itu bahwa “ Telah datang suatu kaum yang tidak mungkin dikalahkan” ?
  5. Berapa usia beliau ketika wafat dan pada tahun berapa ?

 

Pertanyaan sederhana, yang mungkin ketika anda mampu menajwabnya maka sudah cukup tanpa perlu membaca kisah beliau sampai tuntas, tapi seandainya belum mampu menjawab maka disarankan baca kisah inspiratif beliau sampai selesai. 🙂

 

Nama asli Abu Bakar Asshidiq ialah Abdullah bin Utsman (Abu Qohafah).

Ciri ciri fisik Abu Bakar sendiri ialah seperti yang pernah diceritakan anaknya yaitu Aisyah. Aisyah menerangkan ciri fisik ayahnya yaitu :

  • Berkulit putih
  • Kurus
  • Tipis kedua pelipisnya
  • Kening lebar
  • Hitam matanya
  • Kecil pinggangnya
  • Tipis kedua pelipisnya

Sedangkan ciri ciri dari akhlak beliau ialah baik, berani, kokoh pendirian, cerdas, murah hati, penyabar, memiliki azimah (keinginan kuat), faqih, paling mengerti dalam hal nasab arab, wara’, zuhud, lemah lembut, ramah serta jujur (dan masih banyak akhlaq mulia beliau yang belum disebutkan disini).

Abu Bakar punya 4 istri dan dari mereka dikaruniai 6 orang anak :

  • Qutailah : Abdullah dan Asma
  • Ummu Ruman : Abdurahman dan Aisyah
  • Asma : Muhammad
  • Habibah : Ummu kultsum

Keutamaan yang dimiliki oleh Abu Bakar :

  1. Sahabat yang menemani Rosulullah ketika di gua dan hijrah.
  2. Sahabat yang paling alim diantara para sahabat lainnya.
  3. Sahabat yang paling utama.

Diriwayatkan dari ibnu Umar ra , beliau berkata, “kami biasa berbincang menyatakan siapa yang paling utama di antara para sahabat dimasa Rosulullah SAW, maka kami sepakat memilih Abu Bakar yang paling utama, kemudian Umar, selanjutnya Utsman bin Affan ra”.

  1. Sahabat yang paling dicintai Rosulullah SAW.

Diriwayatkan dari Abu Utsman, dia berkata “telah berkata kepadaku Amr bin Ash ra bahwa Rosulullah SAW pernah mengutusnya dalam perang Dzatus Salasil”, kemudian aku mendatangi beliau dan bertanya “Siapakah orang yang paling engkau cintai? Maka Rosulullah menjawab “Aisyah”. Kemudian kutanyakan lagi “dari kalangan laki laki?” Rosulullah menjawab “bapaknya”. Kemudian kutanyakan lagi “siapa setelah itu?”, Rosul menjawab “Umar” kemudian Rosul menyebutkan beberapa orang lelaki.

Abu Bakar dibaiat menjadi khalifah Rosulullah

Pada hari kamis, 5 hari menjelang wafat, Rosulullah menyampaikan pidato yang agung yang menerangkan keutamaan Abu Bakar di banding seluruh sahabat lainnya, ditambah lagi instruksi Nabi SAW kepada seluruh Kaum Muslimin agar beliau menjadi imam Kaum Muslimin dalam sholat. Mungkin khutbah ini yang merupakan pengganti dari keinginan beliau untuk menuliskan wasiat siapa yang menjadi penggantinya.

Akhirnya sesuai dengan yang telah Allah tetapkan, Rosulullah wafat. Seluruh makhluk allah berduka karena ditinggal sang kekasih Allah. Para sahabat waktu itu berduka atas wafatnya Rosulullah. Namun Umar bin Khattab masih tidak percaya atas kematian Rosulullah dan mengatakan bahwa Rosulullah tidak akan mati hingga allah membinasakan habis seluruh orang munafik. Dan beliau akan memenggal kepala siapa saja yang menganggap Rosulullah telah wafat. Abu Bakar yang melihat apa yang di lakukan Umar langsung meluruskannya, beliau langsung angkat suara sambil memuji allah dan memulai dengan membacakan surat Az Zumar ayat 30  yang artinya “Sesungguhnya kamu akan mati dan mereka akan mati(pula).” Dan juga membacakan surat Ali Imron ayat 144 yang artinya “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rosul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rosul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik kebelakang(murtad) ? Barang siapa yang berbalik kebelakang(Murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat bagi allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur”. Akhirnya Umar menyadari bahwa Rosulullah telah wafat.

Di tempat lain, sebagian Kaum anshar berkumpul di saqifah bani sa’idah untuk menentukan kekhalifahan selanjutnya yang telah ditinggal oleh Rosulullah. Mereka menyepakati untuk memilih saad bin ubadah sebagai penggantinya. Akhirnya Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah datang menemui mereka, Abu Bakar dengan lembutnya dan fasihnya menjelaskan tentang keutamaan keutamaan dari sahabat Anshor dan beliau menjelaskan juga bahwa untuk masalah kekhalifahan, shahabat Muhajirinlah yang lebih berhak memegangnya disebabkan mereka ( Quraisy) paling mulia kedudukannya di bangsa arab dan paling tinggi nasabnya. Maka setelah itu Abu Bakar berkata “aku rela kalau kekhalifahan ini diserahkan kepada salah seorang diantara kedua orang ini “, sambil menarik tangan Umar dan Abu Ubaidah. Maka spontan Umar menjawab justru andalah yang lebih pantas kami baiat, anda adalah orang yang paling baik diantara kami dan orang yang paling dicintai Rosulullah diantara kami, maka Umar segera meraih tangan Abu Bakar dan membaiatnya dan akhirnya orang orang pun turut membaiat Abu Bakar.

Abu Bakar menerima baiat mereka terhadap dirinya tidak lain karena ketakutan beliau akan munculnya fitnah jika beliau tidak menerima pembaiatan tersebut. Ini terjadi dipenghujung hari senin dan keesokan harinya selasa pagi orang orang berkumpul di masjid dan sempurnalah baiat untuk Abu Bakar oleh seluruh Kaum Muhajirin dan Anshor. Dan hal itu terjadi sebelum pelaksanaan pemakaman jenazah Rosulullah di siapkan.

Penumpasan Gerakan Murtad

Sebelum menumpas gerakan murtad, Abu Bakar juga melanjutkan ekspedisi pasukan Usamah yang dulu sempat di persiapkan rosuullah sebelum wafat. Namun sebagian sahabat kurang setuju dengan langkah Abu Bakar yang ingin menjalankan ekspedisi pasukan Usamah, termasuk Umar. Umar mengusulkan penundaan pemberangkatan pasukan karena umat membutuhkan mereka untuk mengatasi masalah yang lebih penting. Namun Abu Bakar dengan tegasnya menolak saran beliau dan akan tetap menjalankan misi yang dulu pernah disiapkan Rosulullah. Dan ketika Abu Bakar telah bersiap memberangkatkan pasukan, sebagian shahabat Anshor berkata kepada Umar untuk menyarankan kepada khalifah untuk mengganti Usamah dengan yang lain. Lalu Umar menceritakan kepada Abu Bakar dan Abu Bakar langsung menjawab “payah payah ibumu mengandungmu wahai Umar bin Khattab, bagaimana mungkin aku akan pimpinan yang telah ditunjuk oleh Rosulullah.” Lalu berangkatlah pasukan tersebut dan sebelumnya Abu Bakar meminta ijin agar Umar tinggal bersama beliau di madinah. Ternyata pemberangkatan pasukan ini membawa kemaslahatan besar bagi Kaum Muslimin. Setiap kali mereka melewati perkampungan arab, pasti menimbulkan rasa gentar untuk memberontak sahingga ada yang berkata “tidak mungkin pasukan sebesar ini keluar, kecuali telah memiliki pertahanan yang kuat di madinah”. Dan setelah 40 atau 70 hari mereka pulang membawa kemenangan dan harta rampasan yang banyak.

Abu Bakar tidak hanya memerangi orang orang yang murtad, tetapi juga orang yang memisahkan kewajiban antara sholat dan zakat ( tidak mau bayar zakat). Hampir seluruh tempat di jazirah arab yang keluar dari islam (murtad) ataupun tidak mau membayar zakat. Maka abu bakar memerintahkan untuk memerangi mereka setelah sebelumnya di dakwahi terlebih dahulu untuk bertaubat. Dan setiap peperangan antara Kaum Muslimin dan Kaum musyrikin selalu dimenangkan oleh Kaum Muslimin. Alhamdulillah…

Penaklukan di Negeri Irak

Setelah menumpas nabi palsu dan Kaum murtad di Yamamah, Abu Bakar memerintahkan Khalid bin Walid untuk berangkat menuju Irak dan memulai penaklukan Selat Hindia yaitu yang populer dengan nama Al Ubullah , kemudian barulah menyisir Irak dari arah bawah.

Perang perang yang terjadi di negeri Irak di antaranya :

  • Perang Dzatus Salasil (penaklukan Selat Hindia) -> Karena banyak dari tentara musuh yang memakai rantai ketika berperang
  • Perang Al Madzar ( disebut jugga perang Ats- Tsani -> yang artinya sungai)
  • Perang Al Walajah
  • Perang Ullais
  • Perang Ain At Tamar
  • Perang Al Hushaid dan Al Mushayyakh
  • Perang At Tsani dan Az Zumail
  • Perang Al Firadh

 

Semua peperangan dimenangkan oleh Kaum Muslimin. Alhamdulillah…

Penaklukan di Negeri Syam

Pada awal tahun 13 H, Abu Bakar Asshidiq berusaha keras untuk mengumpulkan pasukan guna dikirim untuk menaklukan Syam dan hal itu di cetuskan beliau sepulang dari melaksanakan ibadah haji demi mengamalkan firman allah swt pada surat attaubah ayat 29 dan 123. Dan demi mengikuti langkah langkah Rosulullah yang sebelumnya telah mengumpulkan Kaum Muslimin untuk memerangi Syam (pada perang tabuk) hingga mencapainya dengan susah payah dalam kondisi musim panas yang menyengat. Setelah kembali ke Madinah, beliau mengutus Usamah bin zaid untuk sebelum wafatnya untuk memerangi daerah Syam. Itulah yang menjadi fakfor pendorong Abu Bakar untuk menaklukan negeri Syam. Ini dilakukan Abu Bakar setelah Selesai memulihkan jazirah arab, dan melakukan ekspedisi di daerah Irak.

Salah satu perang ( yang terbesar) yang terjadi antara Kaum Muslimin dan Kaum musyrikin yang terjadi di Syam ialah perang Yarmuk. Jumlah personil pasukan musuh sebanyak 240.000 (80.000 pasukan di ikat dengan rantai besi, 80 pasukan berkuda, 80 pasukan infanteri(pejalan kaki)). Dan pasukan Kaum Muslimin berjumlah sekitar 30.000-40.000 ( perbandingan pasukan sekitar 1 : 6 sampai 1: 8).

Sebelumnya pasukan muslim dan pasukan Romawi dibagi menjadi beberapa kelompok sebelum akhirnya Abu Bakar memerintahkan agar pasukan Muslimin bersatu dan tentara Romawi juga bersatu. Abu Bakar sampaikan ini lewat tulisan dalam suratnya yang isinya :

Hendaklah kalian bersatu dalam satu pasukan, dan hadapilah tentara Kaum musyrikin, sesungguhnya kalian adalah penolong agama allah dan Allah pasti akan menolong orang orang yang menoong agama-Nya. Sebaliknya dia pasti akan menghinakan orang orang yang kafir terhadap-Nya. Sesungguhnya kalian tidak akan dikalahkan oleh jumlah kalian yang sedikit, tetapi kalian akan dikalahkan disebabkan dosa dosa kalian, maka jagalah diri kalian dari dosa dosa, dan hendaklah setiap panglima pasukan sholat mengimami tentaranya.”

Dan ketika masih terjadi peperangan, khalid mendapat surat yang mengabari tentang wafatnya khalifah Abu Bakar. Dan beliau sengaja tidak mengumumkan langsung kabar ini agar semangat juang Kaum Muslimin tidak melemah. Setelah sengitnya pertempuran, akhirnya peperangan berakhir dengan kemenangan bagi Kaum Muslimin.

Sebab Kekalahan Pasukan Romawi

Pernah seorang nasrani bangsa arab diperintah seorang pendeta untuk mencari informasi tentang Kaum Muslimin. Lalu setelah dia selesai mengintai, maka dia langsung memberitahukan apa yang dia lihat, dia berkata bahwa “ Aku datang membawa berita tentang suatu Kaum yang lembut. Mereka mengendarai kuda yang telah tua dan lemah, pada malam hari mereka laksana rahib rahib karena tekun ibadah dan di siang hari mereaka adalah penunggang kuda yang tangguh. Mereka sibuk memperbaiki anak panah dan meruncingkan tombak. Jika engkau mengajak teman dudukmu untuk berbicara maka ia tidak akan paham apa yang engkau katakan disebabkan riuh oleh gaung suara mereka membaca alquran dan berdzikir”.  Setelah itu sang pendeta berkata kepada sahabatnya “Telah datang kepada kalian suatu Kaum yang tak mungkin dikalahkan”.

Hiraklius bertanya kepada pasukan Romawi yang kalah perang, lalu dijawab oleh salah seorang yang dituakan diantara mereka “kami kalah disebabkan mereka sholat dimalam hari, berpuasa disiang hari, menepati janji, mengajak kepada perbuatan baik dan mencegah dari perbuatan munkar dan saling jujur sesama mereka. Sementara kita gemar minum khamer, berzina, mengejakan yang haram, menyalahi janji, menjarah harta, berbuat kedzaliman, menyruh kepada kemungkaran, melarang apa yang diridhai allah dan kita selalu berbuat kerusakan di muka bumi “. Mendengar jawaban itu heraklius menjawab “engkau telah berkata benar”.

Usia Abu Bakar dan Wafatnya

Al hafidz Ibnu katsir berkata “Abu Bakar Asshidiq wafat pada senin malam, ada yang mengatakan setelah maghrib dan di kebumikan pada malam itu juga yaitu tepatnya 8 hari sebelum berakhirnya bulan jumadil akhir tahun 13 H, setelah beliau mengalami sakit selama 15 hari”. Masa kekhalifahan Abu Bakar berlangsung selama 2 tahun 3 bulan. Beliau wafat pada usia 63 tahun, persis seperti usia Rosulullah SAW.

Jasa Jasa Abu Bakar Asshidiq

Abu Bakar ialah sahahat yang pertama kali masuk islam, dan beliaulah yang selalu menyertai dakwah Rosulullah sepanjang hidupnya. Banyak dari sahabat senior yang mendapat hidayah lewat Abu Bakar diantaranya :

  • Utsman bin Affan
  • Zubair bin Awam
  • Abdurahman bin Auf
  • Saad bin Abi Waqos
  • Tholhah bin ubaidilah

Dan beliau juga banyak berjasa ketika menjadi khalifah Rosulullah diantaranya :

  • Menginstruksikan agar jenazah Rosulullah diurus hingga di kebumikan.
  • Melanjutkan misi pasukan yang dipimpin Usamah yang sebelumnya telah dipersiapkan Rosulullah sebelum wafat. Dan ini sangat berdampak bagi kemaslahatan umat islam.
  • Menyatukan persepsi seluruh sahabat untuk memerangi Kaum murtad dan Kaum yang tidak mau membayar zakat.
  • Mengumpulkan alquran yang sebelumnya berserakan di berbagai tempat (pelepah kurma, batu tulis, hafalan para sahabat) akibat dari banyaknya hafidz yang terbunuh ketika perang yamamah.
  • Penaklukan daerah daerah di negeri Irak dan Syam.

 

 

Resume Buku :

Perjalanan hidup empat Khalifah Rosul yang agung

Karya

: Al Hafidz Ibnu Katsir.

PEMIMPIN PERADABAN

Standar
PEMIMPIN PERADABAN

Oleh Hasna Fahimah (SN)

Bandung, 22 November 2016

        Pemuda adalah ujung tombak yang siap menerkam, pun bagaikan anak panah tajam yang siap melesat. Pemuda adalah mereka yang penuh idealisme, simpatik, visioner, kritis dan mempunyai semangat juang untuk memperbaiki kualitas diri dan bangsanya. Berikrar merajut sketsa perjuangan dan merangkai kepingan kehidupan serta pengalaman membangunnya menjadi sebuah aset yang tak ternilai bagi perubahan peradaban untuk bangsa dan negara.

        Kemampuan melakoni drama dalam alur cerita kegiatan sosial kemasyarakatan adalah kunci untuk mewujudkan mimpi Muslim Negarawan, sebagaimana tagline KAMMI (Jayakan Indonesia 2045).

“Muslim Negarawan adalah sosok yang mau berkontribusi kepada entitas kebangsaan dan mampu memajukan masa depan Islam sebagai proses keumatan”

     -Inggar Saputra

          Imam Syahid Hasan Al Banna, merupakan salah seorang pembaharu Islam, menegaskan bahwa :

Sejak dahulu sampai sekarang pemuda adalah pilar pilar kebangkitan. dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya. dalam  setiap fikroh, pemuda adalah pengibar panji panjinya.”

Bangun!! Jangan terus terlelap dengan tidur panjangmu.

        Kita sebagai pemuda telah dibebankan dengan tugas sejarah untuk memperbaiki kondisi Islam dan negara kita, Indonesia. Bukankah di kampus, kita diajarkan tentang kepemimpinan, integritas, karakter positif, nasionalisme dan peningkatan nilai spiritualitas untuk bekal  kita berkontribusi demi kemajuan Islam dan bangsa Indonesia?. Sejatinya Indonesia membutuhkan PERBAIKAN, dimana salah satu penopang strategisnya adalah kekuatan pemuda yang mampu membuka mata hati, fikiran,  menggetarkan jiwa, menyalakan bara api semangat dan mendorong dengan selaras langkah gerak masyarakat indonesia. Karena bangsa ini mebutuhkan uluran tangan dan gagasan-gagasan cerdas untuk menyelesaikan keresahan masyarakat. Sudah sangat jelas bukan, bahwa perbaikan adalah tradisi perjuangan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Sebagai pemuda yang bergelar “mahasiswa” yang di sebut-sebut sebagai ujung tombak perubahan tentunya mereka mempunyai amanah yang berat. Kenapa? karena mahasiswa mempunyai potensi yang sangat besar dalam perannya sebagai agent of change. tidak hanya itu, sebagai pelaku sekaligus sutradara yang dipilih dalam agen pembaharu ini tentunya kita harus mempunyai “Vission, Mission, Value, dan Meaning” yang merupakan modal untuk menjadi agen perubahan.

Strategi merupakan hal yang sangat penting. Bagaimana tidak, jika kita seorang mahasiswa sebagai agent of change tidak mempunyai planning dalam hidup, layaknya berjalan tanpa tahu arah tujuan. Karena kita hidup bukan hanya untuk saat ini saja, tetapi kita juga harus memandang jauh kedepan. Disamping itu, dalam bertransformasi kita sebagai mahasiswa dalam agen pembaharu juga tentunya harus mempunyai mental yang kokoh, layaknya tetap berdiri kokoh saat angin datang menerpa, bahkan saat hujan badai melanda. Seorang mahasiswa yang merupakan agen perubahan tentunya harus siap dengan segala kondisi apapun nantinya, segala tantangan ataupun konsekuensi yang harus dihadapi, karena sejatinya setiap perubahan pasti ada pro dan kontra. Seperti kata inspiratif mengatakan bahwa

Berdirilah sekokoh pohan. Jika kamu terjatuh, jatuhlah seperti benih yang siap tumbuh”.

-Hasna Fahimah

        Untuk itu, sebagai seorang pemuda ataupun agen perubahan sudah selayaknya kontributif, produktif dan solutif dijalankan sejak dini. Kontributif dimaknai bagaimana memberikan kemampuan terbaik, mengerahkan segala potensi yang ada untuk cita-cita untuk bangsa dan umat sehinga dapat memaksimalkan perbaikan. Produktif dimanifestasikan terus bekerja, berdialektika menciptakan karya sebagai tanggung jawab intelektualitas masyarakat ilmiah. serta solutif dengan berani mengkritisi pemikiran yang menyimpang, mampu menganalisis secara ilmiah sehingga menghasilkan suatu pemikiran baru yang mampu menyelesaikan persoalan dimasyarakat.

Wahai pemuda! Fikroh ini akan menang jika kita memiliki iman yng kuat, tulus dan ikhlas kepadaNya. serta mempunyai semangat yang berkobar-kobar, kesiapan berkorban dan beramal untuk mewujudkannya”.

-Imam Hasan Al Banna

        Merupakan paduan untuk para pemuda yang mampu membuka paradigma pemikiran. IMAN IKHLAS SEMANGAT dan AMAL, merupakan ciri khas akan seorang pemuda. Karena sejatinya dasar iman adalah hati yang hidup, asas ikhlas adalah hati yang suci, landasan semangat adalah perasaan yang kuat dan amal adalah tekad yang selalu tegar.

Anak panah pertama adalah banyak membaca. karena kualitas manusia diukur dari apa yang ia baca, semakin berkualitas bacaan seorang pemuda maka dirinya dikatakan layak memiliki kapasitas yang mampu menguatkan kompetisi diri dan bangsanya. dan kualitas suatu negara tergantung kepada para pemudanya yang semangat mencari ilmu, karena ilmu tanpa seamangat akan menjadi hujjah bagi diri sendiri.

Budaya baca ini merupakan suatu hal yang perlu mendapat perhatian serius, karena membaca juga merupakan aset strategis.

dengan seni hidup menjadi indah, dengan ilmu hidup menjadi mudah dan dengan agama hidup terarah”.

    -Buya Hamka

        KAMMI adalah ajang investasi ilmu karena disana kita mendapatkan kesempatan wisata buku pilihan sebagai Manhaj Tugas Baca atau yang kerap disapa (MANTUBA), ini merupakan salah satu proses nalar intelektual dengan mengaplikasikannya lewat budaya membaca.

Anak panah yang kedua adalah aktif menulis sebagai prodak dari proses olah fikir fenomena yang berkembang disekitarnya. Karena jika sebuah pemikiran dan tindakan dituangkan dalam sebuah tulisan maka ia akan menjadi sebuah ledakan yang amat besar. karena tinta seorang pemuda, adalah darah bagi perubahan peradaban, karenanya wahai pemuda perhatikanlah ujung penamu bergerak!. Begitupula dengan ungkapan seorang Napoleon Bonaperte bahwa :

Saya lebih takut kepada tulisan dibaningkan menghadapi ribuan pasukan perang. Sebab tulisan menghasilkan pengaruh yang luas dan bisa membuat kekuasaan saya hanya bertahan selama tiga hari saja”.

        Sangat jelas bahwa sebuah tulisan merupakan senjata tajam dalam mempengaruhi opini publik. Juga sebuah kata motivasi mengakatakan bahwa,

Jika kamu tidak bisa berperang menggunakan pedang, setidaknya berperanglah menggunakan tinta”.

        dan di KAMMI juga lah merupakan organisasi yang peduli kepada literasi yang siap memfasilitasi untuk menulis sebagai Habits.

Anak panah ketiga yaitu berdiskusi. dalam memandang suatu persoalan mahasiswa-lah merupakan elemen muda yang terbiasa mengkritik kebijakan, sangat jelas bahwa diskusi sangat amat dibutuhkan untuk menjaring pendapat, beradu argumentasi, mengolah teori menjadi tindakan dan belajar untuk saling menghargai perbedaan pendapat juga sebagai ajang untuk merumuskan langkah aksi untuk bergerak secara produktif dan sesuai nalar logis. Karena KAMMI mengajarkan bahwa meski berbeda pendapat tetap harus kokoh. dan KAMMI bergerak berdasarkan kefahaman. Kader KAMMI juga ketika akan melakukan pengkaderan, kehumasan dan kerja strategis lainnya, terbiasakan melalui kajian komprehensif serta mengacu kepada fakta kontemporer sehingga kebijakan yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

Adapun peranan strategi pemuda yang lainnya adalah kecepatan terhadap kematangan pemuda, jelas ini menyangkut keimanan dan kataqwaan seorang pemuda terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya adalah mendongkrak kewirausahaan yang dapat mencetak pemuda yang mandiri disisi lain yaitu membentuk pribadi pemuda karena sejatinya,

Jika pemuda belum mandiri secara finansial, maka ia mudah tergoyahkan oleh proyek yang sifatnya pragmatis/tergadaikan idealismenya”.

        -Moh Sohibul Iman

Kemudian yang terakhir yaitu membuat jaringan komunikasi pemuda internasional.

 

 

Firasat Angin

Standar
Firasat Angin

Oleh Gian Bakti Gumilar (Ka’ang KAMMI 2016)

“Seonggok kemanusiaan terkapar. Siapa yang mengaku bertanggung jawab? Bila semua pihak menghindar, biarlah saya yang menanggungnya, semua atau sebagiannya…”

-Syaikhut Tarbiyah, Rahmat Abdullah

        Langit hari ini terlihat sendu, senja pun buram beringsut. Kutengadahkan kepala menentang horison yang terhampar, menatap mega-mega yang luas tapi tetap diam, aku gamang. Adakah langit akan menangis hari ini, menghujani bumi yang telah tua dan mulai sakit-sakitan, aku bersama beberapa buku di tasku hanya terpaku, gamang melihat langit yang diam namun seakan berbicara dalam bahasa yang satu. Aku merasa seperti Santiago yang kebingungan di Tangier.

Tapi domba-domba itu mengajarinya sesuatu yang lebih penting: bahwa ada bahasa di dunia yang dimengerti setiap orang, bahasa yang digunakan si bocah sepanjang waktu saat dia mencoba mengembangkan hal-hal baru di toko kristal itu. Itulah bahasa gairah, menyangkut hal-hal yang dicapai dengan rasa cinta dan niat, dan sebagai bagian dari ikhtiar mencari sesuatu yang diyakini dan diinginkan. Tangier bukan lagi kota asing, dan dia merasa bahwa, sebagaimana dia menaklukkan tempat ini, dia sanggup menaklukkan dunia.1  

Ada hal yang ikut kurasakan dari desau angin yang meniup dahan-dahan pohon pisang hingga bergoyang, ah angin memang kurir yang paling kupercaya sejak lama. Penyambung firasat yang sesungguhnya, bukankah genderang perang pun terbawa oleh angin? Manusia memang tercipta paling sempurna, hanya saja mereka kurang banyak belajar dari angin.

Hari ini, kutatap meja tulisku lekat-lekat, entah aku harus berduka atau bahagia. Kucoba periksa kembali stimuli-stimuli apa yang membuatku sejauh ini, dan pembenaran-pembenaran mulai menyeruak dalam pikiranku, mungkinkah karena hatiku yang memang benar-benar sudah lurus niatnya, mungkinkah aku masih berjuang karena sesuatu hal yang fana, atau apa, atau bahkan tak ada yang kuinginkan.

Kata Prof. Beerling seseorang hanya dapat hidup selama masih punya harapan-harapan. Tapi sekarang aku berpikir sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa.2

Cinta, adalah kesimpulan yang sampai saat ini memuaskanku. Memang aku mencintai jalan ini, jalan yang entah kenapa membuat banyak senyuman, tentang perbaikan-perbaikan hidup, perbaikan-perbaikan peradaban, dan perbaikan-perbaikan wajah kemanusiaan. Dan itu juga yang mungkin dirasakan banyak orang, yang membuat mereka tetap yakin, yang membuat mereka tegar dalam cobaan, bahkan jika semua orang meninggalkan jalan ini, akan tetap ada orang yang tertatih bertahan: aku.

Namun masalahnya lokomotif haruslah gerbong yang siap mengeluarkan asap, menerjang salju dengan badannya, tetap melaju di tengah malam, dan membelah kesunyian daerah-daerah tujuan, karena dia tahu apa yang ia bawa serta seberapa besar amanah yang ia emban. Sedangkan angin itu penyendiri, ragu-ragu, dan sulit ditebak. Ketika bangsa ini berada di awal kemerdekaan, dan pucuk pimpinan adalah hal yang darurat dan sangat genting untuk segera diputuskan, ada banyak tokoh yang muncul, dan mengerucutlah pada dua tokoh yang begitu sentral: Bung Karno dan Bung Hatta. Salah satu orang itu adalah agitator ulung sejak mudanya, penuh perhatian pada rakyat seperti kepada Pak Marhaen, orang yang selalu tampil di depan dan begitu menggelora ketika berbicara. Yang satu lagi orang yang membawa berkoper-koper buku disaat kepergiannya untuk menyelesaikan studi, orang yang rela dipenjara asalkan dengan buku-buku, pemikir hal-hal kecil ketika teman sejawatnya berpikir besar ke depan. Dan jelas saja orang-orang akan memilih yang mana, dan memang dalam sejarah para agitator selalu didampingi para penasehat, walaupun mereka kadang tak sejalan. Aku berjalan dan tetap gamang, angin dengan garang menerpa ujung-ujung rambutku. Awan pekat mulai terkumpul, ritme hujan rintik seakan merasai apa yang sedang bergejolak di pikiranku. Begitu melankolik.

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang yang bertanya kenapa.3

        Pernah beberapa kali aku mengalami kondisi seperti kondisi Bung Hatta. Pernah beberapa kali kukeluarkan apa yang ada di pikiranku walau dianggap terlalu idealis. Tapi apakah aku harus menggubris rumor? Sebenarnya siapakah yang berhak memvonis kita? Apakah aku harus menjelaskan perbedaan idealis dan perfeksionis? Dan pada dasarnya kitalah yang membatasi diri kita. Kita: satu-satunya orang yang bertanggung jawab men-drive hidup kita. Sebenarnya apa yang menghalangi angin untuk berhembus kecuali kemauan dirinya dan titah Allah Swt.? Di satu sisi ketakutan-ketakutan kita tentang pengabaian, penghinaan, dan ketidakmampuan begitu kuat terasa. Dan anginlah memang yang paling tulus membawa segalanya, tak pernah ia bertanya mengapa ia harus membawa begitu banyak kondensat air dari bumi menuju kahyangan, meniupi ombak hingga sampai ke daratan, selalu fokus pada pekerjaan walau terabaikan dan terlupakan. Apakah sudah saatnya orang introvert memimpin? Mungkin kertas-kertas sudah terlalu jejal untuk kutulisi, dan wangi buku baru sudah mulai bosan kuhirup setiap hari. Adakalanya angin harus bertentu tuju, membantu menyemai tunas-tunas dandelion hingga jauh, menerbangkan layang-layang yang membuat anak-anak kolong jembatan girang.

Matahari telah hampir masuk ke dalam peraduannya. Dengan amat perlahan, menurutkan perintah dari alam gaib, ia berangsur turun, turun ke dasar lautan yang tidak kelihatan ranah tanah tepinya. Cahaya merah telah mulai terbentang di ufuk barat, dan bayangannya tampak mengindahkan wajah lautan yang tenang tak berombak. Di sana-sini kelihatan layar perahu-perahu telah berkembang, putih dan sabar. Ke pantai kedengaran suara nyanyian “Iloho gading” atau “Sio sayang”, yang dinyanyikan oleh anak-anak perahu orang Mandar itu, ditingkah oleh suara geseran rebab dan kecapi.4

        Semuanya mulai jelas sekarang, angin mulai membawa harum rumput, gemericik gerimis begitu merdu laiknya gramofon alam, sudah lama aku tak merasakan sendiri kepuitikan alam, ah begitu menyublim berlatar langit yang mulai cerah oleh sandikala berwarna jingga. Sayangnya tidak ada pelangi hari ini, yang ada hanya angin sepoi terseok-seok membawa banyak titipan rindu.

 

Catatan

  1. Paulo Coelho,Sang Alkemis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005, hlm. 46.
  2. Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran. Jakarta: LP3ES, 1983, hlm. 131 & 132.
  3. Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2015, hlm. 75.
  4. H. Abdul Malik Karim Amrullah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Jakarta: Bulan Bintang, 1984, hlm.1.

 

PERTEMUANKU DENGAN KAMMI

Standar
PERTEMUANKU DENGAN KAMMI

Oleh Arip Rahman Hakim (Kadep PENGMASY periode 2015-2016)

Bismillahhirrohmannirrohim

Assalammu’alaikum wr.wb

Sahabat, aku ingin bercerita tentang pertemuanku dengan KAMMI. Semoga cerita ini bisa mengispirasi sahabat semua untuk masuk atau bergabung dengan KAMMI.”

Singkat cerita, aku melaksanakan tugas dari himpunanku yaitu mengisi buku himpunan dengan cara berkenalan dengan kakak tingkat 2013. Pada saat itu aku baru sampai di kampus tepatnya pukul 08.00 WIB, aku berjalan dari parkiran ke arah pendopo polban menuju gedung kuliah U. Saat melewati pendopo aku melihat ada seorang kakak tingkat 2013. Langsung saja aku menghampirinya dan mengajak dia berkenalan denganku. Kita berdua melakukan percakapan yang mungkin bisa dibilang sok akrab, karena aku ingin menunaikan tugas himpunanku dengan cara mendapat biodata kakak tingkatku dan di tulis di buku himpunan. Setelah selesai berkomunikasi, dia belum mengisi tanda tangan di buku himpunanku, lalu saya bertanya, kang kok belum di tanda tangan… dengan wajah heran aku bertanya. Dia menjawab, akang akan kasih tanda tangan tapi ada syaratnya. Lalu aku bertanya, syaratnya apa kang ??? . Dia menjawab, antum harus ikut KAMMI nanti ane tanda tangan. Tanpa pikir-pikir terlebih dahulu, aku langsung bilang oke kang saya siap masuk KAMMI. Padahal saya disitu tidak tahu apa-apa tentang KAMMI, maklum masih maba. hehe

Oh iya aku lupa memperkenalkan kakak tingkat yang mengajaku masuk KAMMI. Namanya Gifari Muslih, beliau kakak tingkatku di HMRA angkatan 2013. Sejak dari situ, aku selalu diajak dan intensif di pm, mungkin ini namanya df yaa.. hehe . Saat ada DM 1 POLBAN aku gak ikutan DM, dia terus saja memfollow up aku. Singkat cerita, aku berkenalan lagi dengan kakak tingkatku, ini beda orang yaa hehe. Eh mulai sekarang aku nya diganti jadi ane aja deh biar agak enakeun. hehe

Yudha Wardana itulah nama berikutnya yang ane minta biodatanya. Ternyata kang Yudha juga aktif di KAMMI, tetapi saat ane minta biodatanya, kang Yudha tidak mengajak ane untuk gabung KAMMI, mungkin karena beliau tahu kalau ane udah di df sama kang Ghifari. Ane lupa tanggal berapa saat itu tapi tepatnya di hari jum’at, ane di pm sama kang Yudha. Rip DM 1 UIN malam ini, antum ikut kan ??? Entah kenapa seketika ane langsung jawab iya kang siap ane ikut. Hari itu juga ane persiapkan barang-barang yang harus di bawa saat DM 1 UIN. Ba’da ashar ane berangkat dari POLBAN menuju UIN, ternyata hujan pemirsa… hehe. Sungguh perjuangan yang sangat berat. Setelah sampai di UIN ane , kang Yudha dkk melaksanakan sholat maghrib karena sudah waktunya. Karena masih hujan juga, ane masih menunggu di masjid UIN. Adzan isya berkumandang, ane segera melaksanakan sholat isya berjamaah. Karena mungkin takut terlalu malam, tepatnya sekitar jam 20.00 WIB kita berangkat dari UIN menuju tempat DM 1 di daerah cileunyi. Setelah sampai disana, sumpah ane bingung dan gak tau apa-apa tentang KAMMI terus ane di tinggal sama kang yudha. 3 hari 2 malam DM 1 berjalan di UIN, sungguh ane sempat berfikir ane tidak suka dengan KAMMI, KAMMI ini berfikirnya tengtang aksi, aksi dan aksi. Mungkin karena minimnya pengetahuan ane tentang KAMMI makanya ane berfikiran KAMMI tuh mentingin aksi doang.

DM 1 UIN telah dilalui oleh ane, tapi dalam hati ane, ane gak mau aktif di KAMMI.Setelah selesai DM 1 ane di undang group UBK Masa Jihad, Pengmasy Ciwawa dll. Saat itu ane hanya menjadi silent reader saja, eh enggak ketang lebih tepatnya ane jarang mungking sampai gak pernah buka group itu. Semester 1-3 terlewati tanpa kontribusi di KAMMI, asli hidup terasa hampa . Mungkin karena di SMK ane aktif di DKM yang selalu dekat dengan masjid dan acara acara di masjid, tapi saat kuliah ane hanya dekat dengan pelajaran, mata kuliah, dosen. Sumpah ane ngerasa ada yang kurang dengan diri ane sendiri.

Awal perkuliahan semester 4 ane di pm, di telfon, di chat via line, whatsup sama seseorang yang bernama Mega Nurjannah Ahmad. Beliau nge sms panjang pisan asli, ane juga bacanya sampe gak beres 2 menit hehe. Inti dari smsnya tuh, teh Mega minta ane aktif di KAMMI. Posisi ane pada saat itu sudah menjadi Ketua Departemen Kerohanian HMRA. Ane juga bingung, takut kalau ane gak bisa ngejalanin amanah ini dengan baik karena ikut dua organisasi. Enggak tau kenapa ane juga, kok bisa mau aktif di KAMMI. Mungkin karena yang ngajaknya teh Mega dengan sms dan telfon yang bikin ane juga sedih ngedengernya, beliau single fighter di Pengmasy , kadep pengmasy nya katanya jarang aktif. Bismillah, perjalanan ane di KAMMI dimulai.

Pertama ane aktif di KAMMI langsung jadi ketua pelaksana TFT, gila nih baru juga ane masuk udh jadi ketuplak busyett dah. Tapi ane yakin dengan bantuan ALLAH SWT semua akan berjalan dengan lancar…. Nah saat itu ane aktif  sekali, mungkin karena ketuplak jadi harus aktif hehehe.. Ane mulai ngerasain kok KAMMI ada yang beda dengan organisasi lain, sumpah KAMMI ini ukhuwah nya subhanallah banget lah. Ane baru ngerasain ukhuwah seerat ini di kehidupan kampus. Disaat ane butuh bantuan, langsung ada yg respon dan bantu, fast respon lah intinya mah.

Singkat cerita TFT berjalan dengan lancar, nah ane udah mulai ngerasa betah nih di KAMMI. Ane pingin coba beberapa bulan deh aktif di KAMMI dulu. Yang tadinya mau aktif beberapa bulan, eh malah kelamaan dari planing, jadi aktif terus di KAMMI. Alhamdulillahnya ane bisa bagi waktu antara rohis himpunan dengan KAMMI karena di KAMMI ane hanya sebagai anggota pengmasy.

Banyak acara-acara pengmasy yang bikin ane makin betah, setelah TFT ada GKM, GR, PHBI, KRC dll ane ikut serta. sumpah makin betah dengan agenda di KAMMI terutama di PENGMASY. Pikiran ane yang dulu tentang KAMMI fokus di aksi, aksi dan aksi. Ternyata itu SALAH BESAR, yang ane rasakan KAMMI UBK khususnya pengmasy lebih ke aksi terhadap masyarakat, peduli terhadap masyarakat di sekitar POLBAN. Singkat cerita ane Kerja Praktek di Jakarta, sumpah ane disini jarang aktif di KAMMI mungkin karena terkendala jarak dan gak ada kuota. Setelah pulang KP ane hadir di acara Qurban yang diadakan oleh KAMMI, ane ikuti acaranya sampe beres, dan ane merasakan kembali ukhuwah yang erat di KAMMI.

Seletah qurban selesai, pengmasy mempunyai program kerja PHBI yaitu merayakan tahun baru hijriyah dengan agenda pawai obor bersama anak anak dan orang tua. Parahnya, agenda pawai obor bentrok dengan DM 1 POLBAN. Ane berusaha fokus dulu di pawai obor sampe sampe ane gak masuk kuliah karena ngurusin acara pawai obor. Tapi alhamdulillah nya dosen yg ngajar gak masuk, jadi ane gak ketinggalan pelajaran. Sungguh ALLAH SWT telah mengatur semuanya, sehingga ane gak kuliah tapi gak ketinggalan mater, Nuhun YA ALLAH…

Mulai dari nyari bambu buat obor, nyari sumbu kompor dan minyak tanah ane melakukannya sendirian, eh enggak deng nyari bambu mah bareng sama Teh Mega… Ane chat di group pengmasy, gak ada yg ngewaro. Padahal ane butuh bantuan untuk bikin obor, orang yang tadinya menjanjikan untuk datang tapi gak datang, dari situ agak sedikit kesel. Tapi alhamdulillahnya bikin obor dibantu sama temen temen dari DKM Al Hikmah dan alhamdulillahnya 60 obor bisa selesai sebelum maghrib. Setelah selesai bikin obor, ane ngerasa lelah lemes, ane lupa belum makan, waduhh sampe lupa makan gini.. Lalu ada yg pm ke ane namanya Teh Siti Sumarni, lalu ane bilang tolong beliin makanan buat ane, ane belum makan dari pagi. alhamdulillah teh siti sumarni segera datang dan memberikan makanan itu gratis, sebenernya ane gak enak tapi da teh siti ane kasih uang ganti beliau gak mau, yasudahlah rezeki .

Adzan maghrib berkumandang, ane sholat berjamaah di masjid Al-Hikmah sambil nunggu acara pawai obor dilaksanakan. Setelah sholat, ane minta temen temen pengmasy syuro untuk teknis acara pawai obor. Dan saat itu, ane sumpah kesel banget sama pengmasy. Ane pimpin syuro, tapi asa gak di hargain sama mereka. Ane berbicara panjang lebar mereka malah ikut berbicara juga, sampai-sampai saat ane berdo’a untuk kelancaran acara, mereka gak nyadar bahwa itu sedang berdo’a, sumpah kesel banget ini mah. Ane ngerasa mereka gak ngehargain ane yang berkerja keras dari pagi sampe malem untuk nyiapin acara pawai obor ini. Saat itu ane berfikiran, mungkin ane mah hanya sebagai “ban serep” digunain kalau saat ada butuhnya aja.

Sempat terfikir untuk gak akan aktif lagi di KAMMI karena masalah ini. Singkat cerita pawai obor selesai, ane dan kawan kawan langsung pergi ke tempat DM 1 POLBAN. Acara internalisasi yang membuat ane sadar tidak ada kata “ban serep” kita disini mengadakan kegitan ini mempunyai 1 tujuan yaitu JIHAD FIISABILILLAH. Saat internalisasi, ane bener bener nangis berat, karena ane baru tahu ini tujuan ane di KAMMI, dan mulai saat itu juga ane niatkan tujuan ane ikut KAMMI adalah JIHAD FIISABILILLAH, ane gak mengharapkan jabatan dan sebagainya. Intinya JIAD di jalan ALLAH SWT. Entah kenapa setelah DM 1 terlaksana, ane dapet kabar kalau ane mau diangkat menjadi Ketua Departemen Pengembengan Masyarakat. Ane sempat menolak, karena ane udh punya amanah dari HMRA yg harus dilaksanakan.

Sampe diajak ngobrol bareng, di pm via sosial media, ane tetep nolak untuk menjadi Kadep Pengmasy. suatu hari, ane hadir pada syuro reshufle kabinet yang bahasannya ternyata tentang penggantian Kadep yang lama dengan Kadep yang baru. Nama ane di sebut dalam syuro itu sebagai calon kadep pengmasy. ane sempat berargumen dengan forum. tetapi pada akhirnya, ane serahkan keputusan kepada forum, dan keputusan forum setuju kalau ane jadi kadep. Bismillah Innalilali itu yang ane di hati ane, satu sisi ane senang karena udah gak jadi ban serep lagi di pengmasy, tapi di satu sisi terdapat amanah yang sangat bersar yang harus dijalankan. Tapi ane ingat dengan tujuan ane masuk KAMMI, “JIHAD FIISABILILLAH” itulah kata-kata yang membakar semangat ane untuk tetap berusaha maksimal dalam setiap agenda KAMMI. Itulah sedikit cerita yang bisa ane sharing, kita ambil hikmahnya saja, yang jelek-jelek mah buang aja.

“Pesan saya untuk para pembaca, janganlah menilai suatu organisasi dari luarnya saja. Karena jika menilai dari luarnya saja, maka itu salah. Antum harus terjun dan rasakan atmosfir yang ada dalam organisasi tersebut, barulah antum menyimpulkan organisasi ini seperti apa. Dan janganlah antum baperan, dicuekin dikit sama temen di KAMMI langsung bilang gak akan aktif. Ingat Akhi Ukhti, tujuan kalian di KAMMI hanya satu yaitu  JIHAD FIISABILILLAH. Antum harus ingat pada saat antum ikrar di acara internalisasi.

JIKA ADA 1000 ORANG YANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH, MAKA SALAH SATUNYA ADALAH AKU

JIKA ADA 100 ORANG YANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH, MAKA SALAH SATUNYA ADALAH AKU

JIKA ADA 10 ORANG YANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH, MAKA SALAH SATUNYA ADALAH AKU

JIKA ADA 1 ORANG YANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH, MAKA  ITU  ADALAH AKU

DAN JIKA TIDAK ADA SEORANGPUN YANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH, SAKSIKANLAH YA ALLAH, AKU TELAH MATI SYAHID…

ALLAHUAKBAR !!!!!!!

 

Terimakasih

Wassalammu’alaikum wr.wb

RIHLAH KAMMI UBK DI CIC BANDUNG

Standar

rihlah 2015

BANDUNG- Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Umar Bin Khattab menyelenggarakan agenda rihlah pada awal semester kemarin. Kegiatan rihlah ini diikuti oleh mahasiswa yang telah menjadi Anggota Biasa 1 (AB 1), maupun Anggota Biasa 2 (AB 2).

Acara rihlah tersebut dibuka oleh perwakilan dari departemen kastra kammi ubk. rihlah yang terdiri dari ikhwan dan akhwat ini selanjutnya dibagi menjadi 4 kelompok. Peserta kemudian diajak bermain games yang sudah dirancang oleh panitia, di antaranya adalah peserta harus melewati tantangan dan berjalan pada jalan yan terjal dan berliku namun harus tetap dalam keadaan bersama. Setelah itu di akhir acara peserta melakukan tukar kado kemudian disusul dengan sharing tentang pengalaman ataupun kesan – kesan selama di KAMMI. Setiap games itu mempunyai hikmah masing-masing, seperti melatih kepemimpinan, konsentrasi, strategi, tidak mudah menyerah dalam menghadapi sebuah masalah, dan melatih kekompakan masing-masing tim.