Model Advokasi Kultural dan Struktural Anak Jalanan

Posted: Mei 23, 2011 in Artikel

Ditulis oleh : Yodivalno Ikhlas, S.ST

Kultural

Pertama, kader KAMMI harus terlibat aktif mengadvokasi kebutuhan anak jalanan, seperti kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan. Kesehatan, misalnya contoh kasus “ngelem” dan freesex, bisa diantisipasi dengan melakukan pendekatan personal kepada anak jalanan, menjelaskan dampak negatif dari prilaku tadi, kader KAMMI harus siap menjadi KaS (Kader Siaga) jika ada binaan anak jalanan yang jatuh sakit ringan maupun parah, kalau perlu kader ngerjain skripsi silahkan kerjain di tempat anak jalanan itu dirawat. Pendidikan, bisa dilakukan dengan membuat kelompok-kelompok belajar atau mengkomunikasikannya ke sekolah formal terdekat, dan minta perlakuan khusus untuk anak jalanan yang belajar di sekolah tersebut. Kesejahteraan, inilah sebuah tantangan tersendiri kader KAMMI, bukan saja memberi mereka modal usaha, tapi juga berusaha mengupgrade skill yang mereka punya atau menambahnya. Beri mereka pancing bukan ikannya.

Kedua, kuasailah opini ditengah-tengah masyarakat, apakah itu melalui silahturrahim dengan tokoh, membuat tulisan-tulisan di media massa, memuatkan kegiatan kader KAMMI bersama anak jalanan ke media atau seminar-seminar yang meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap persoalan anak jalanan. Harapan kita, makin banyak yang peduli, makin banyak yang tergerakkan hatinya untuk melakukan langkah-langkah kecil berupa agenda-agenda yang dilakukan oleh kelompok masyarakat yang lain.

Untuk kultural cukup itu saja yang perlu dilakukan oleh kader KAMMI, ga usah banyak-banyak, tar capek dan kuliah ga lulus-lulus .

Struktural

Pertama, lakukanlah survey di daerah setempat, apakah ada gerakan pemerintah (biasanya Dinas Sosial) setempat melakukan tindakan yang maksimal selain merazia. Jika memang ada, kader KAMMI dapet sokongan gratis, silahkan ajukan proposal dan lainnya. Dan jika tidak, kita lanjut ke agenda kedua, yaitu tabayyun langsung ke mereka, emangnya mereka telah melakukan apa untuk menyelesaikan anak jalanan. Jika mereka kebingungan alias ga tau mau ngapain, kita bisa ajukan contoh-contoh program, minimal apa yang telah kita lakukan dilakukan. Nah, nanti jika mereka mulai menjanjikan sesuatu, mulailah kita merekam apapun yang mereka ucapkan supaya nanti bisa kita tagih. Agenda ketiga, kita mulai mengevaluasi kerja-kerja mereka, jika bagus Alhamdulillah, jika tidak. Maka kita ke paragraf selanjutnya.

Agenda keempat, kita audiensi ke DPRD, biasanya komisi yang menanganinya komisi D bukan komisi 8 lho. Nah, kita minta Dinas Sosialnya juga dihadirkan, jadi ceritanya kita ngadu ke anggota dewan yang terhormat sekaligus mengevaluasi kerja-kerja pemerintah eksekutif. Nah, biasanya dari sana legislatif dan eksekutif akan saling berjanji sehidup semati menyelesaikan persoalan ini. Peganglah janji mereka itu, lalu selipkan sedikit kalimat ancaman, “Pak, Bu yang terhormat, jika saudara-saudara kami masih belum maksimal mendapatkan threatment dari bapak dan ibu, jangan salahkan mereka nanti menginap digedung dewan atau kantor dinas sosial”.

Jika mereka merealisasikan apa yang telah mereka janjikan, ya syukur Alhamdulillah, kita bisa mengejawantahkan Al Insyirah : 7. Jika tidak, eksekusi lah oleh Garda Aksi KAMMI dan anak jalanan yang ada.

Itu sederhananya gerakan yang akan kita bangun. Kultural dan struktural harus seiring sejalan. Berkelanjutan alias istiqomah, sampai anak jalanan mendapatkan hak-haknya. Biasanya nih, gerakan kultural lebih dahulu satu langkah.

Ditulis di ruang teknik PT. Dekky Karya Bestari, setelah selesai menggarap foto Final Quantity 100%.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s