Oleh : Ferry Aldina
Ketua Dept. Pengembangan Masyarakat KAMMI POLBAN
Masa Jihad 2010-2011
Kertas akan tetap kosong jika tidak di isi, bahkan kemungkinan untuk ternodai pun akan terjadi. Kemungkinan paling parah yaitu jika tidak ada keinginan untuk mengisinya dan boleh jadi menunggu kertas itu ternoda sendirinya . Begitu juga ketika menghadapi suatu masalah ataupun sesuatu yang boleh jadi “aman-aman” saja karena tidak dianggap masalah. Sesuatu itu akan menjadi masalah jika kita tidak menangani segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan tentunya maksimal dalam setiap perbuatan. Lantas posisi KAMMI dalam diri kadernya itu dimana? KAMMI itu hanya sebagian kecil sarana untuk perbaikan diri, justru yang bisa bereksplorasi di dalamnya itu adalah orang yang terlibat didalamnya. Tidak heran kalau kader bisa mendapatkan berbagai perubahan setelah masuk KAMMI jikalau benar-benar penuh keikhlasan dalam menjalankan setiap aktivitas dan menginginkan perubahan yang lebih baik. KAMMI menawarkan berbagai macam sarana untuk pengembangan diri mulai dari departemen kaderisasi, departemen kajian dan strategis, dan departemen pengembangan masyarakat. Disini yang akan lebih dijelaskan adalah yang berkaitan dengan departemen pengembangan masyarakat (mungkin karena penulisnya dari Departemen Pengembangan Masyarakat).
Masyarakat adalah komponen penting untuk membangun bangsa, tanpa adanya suatu masyarakat yang berakhlak baik mungkin tidak bakalan lama maka kita akan merasakan kehancuran bangsa ini. Kesentralan peran masyarakat ini sebanding dengan masalah yang berada di lingkungan masyarakat itu sendiri, tidaklah heran jika banyak orang yang “kacau” karena memang lingkungannya mengharuskan seperti itu. Jadi, perlu adanya peran untuk memberikan suasana dari lingkungan yang tidak kondusif –penuh dengan problematika- menjadi lingkungan yang aman, sejahtera, dan bisa merasakan nikmatnya islam. Mungkin itu masalah akhlak sedangkan untuk masalah lingkungan, kita perlu banyak berbenah diri. Misalkan aspek kesehatan , KAMMI (kesatuan aksi mahasiswa muslim Indonesia) berusaha memusatkan perhatiannya ke masalah sampah. Bagi yang menganggap remeh masalah ini, mungkin sungguh butuh pemikiran ulang baginya karena masalah ini juga dapat menimbulkan masalah lainnya. Mulai dari baunya, bakteri penyakitnya, sampai ke polusi udara. Penanganannya pun harus senantiasa perlu pemikiran ekstra karena untuk meyakinkan bahwa ketika kita mempunyai solusi maka solusi itu bisa diterima oleh semua orang.
Dalam mengatasi masalah sampah, KAMMI komisariat Politeknik Negeri Bandung melaksanakan agenda yang bernama “composting sampah”. Agenda ini merupakan suatu solusi dari permasalahan sampah dan bisa menjadi penghasilan bagi masyarakat sekitar karena memang nilai jual untuk pupuk kompos itu bisa bersaing dengan produk-produk lain. Bertepatan dengan tanggal 23 Januari 2011 KAMMI melakukan simulasi kepada warga untuk pelaksanaan composting. Alhamdulillah KAMMI melaksanakannya dengan lancar dan meskipun ada sedikit rintangan tapi akhirnya itu semua bisa teratasi. Yang kita tunggu adalah Surat tugas dari Pemerintah Desa untuk membangun surat Pembangunan “rumah mesin” , rumah kedap suara sehingga bisa mengatasi kebisingan. Setelah itu akan diusahakan proyek produksi pupuk kompos. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada KAMMI dalam merealisasikan sampai tujuan akhir kita dalam mengembangkan masyarakat menuju masyarakat Ciwaruga (Desa Binaan KAMMI POLBAN) yang mandiri dan madani. ALLAHU AKBAR!!


