KAMMI Umar Bin Khattab

Terus Bergerak! Tuntaskan Perubahan!!

Hakikat Musibah dan Bencana

Rasanya bangsa Indonesia tidak lepas didera berbagai bencana, sampai hari ini, silih berganti. Belum selesai penanganan musibah yang satu, muncul baru musibah yang sebelumnya tidak pernah kita duga. Sebagaimana yang diberitakan di banyak media, begitu banyak contoh musibah tersebut.
Sudah menjadi sunnatullah, bahwa manusia di muka bumi pasti diuji dengan berbagai hal. Diuji dengan sesuatu yang menyenangkan atau sebaliknya sesuatu yang tidak disukai. Sesuatu yang tidak disukai beragam macamnya. Rasa takut, kelaparan, berkurangnya harta dan jiwa, bahkan hal yang berharga lainnya.
Allah swt. telah menyatakan hal demikian dalam surat Al-Baqarah: 155-157
“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” .
Kekurangan harta dan jiwa. Ketika Gempa 7,3 SR yang masih terngiang guncangannya di Jawa Barat dan sekitarnya. Selain rasa takut menggelayuti warga, juga kehilangan harta bahkan jiwa. Tidak terhitung jumlah kerugian, baik fisik maupun kegiatan ekonomi yang mandek. Banyak yang meninggal dunia, karena tertimbun longsor dan kejatuhan bangunan-bangunan rumah yang roboh.
Rasanya Indonesia tidak lepas didera berbagai bencana, sampai hari ini, silih berganti. Belum selesai penanganan musibah yang satu, muncul baru musibah yang sebelumnya tidak pernah kita duga.
Yang lebih penting, adalah sikap introspeksi masyarakat Indonesia, lebih lagi pemerintahnya. Ada apa ini?. Apakah ini semata-mata teguran Allah swt., karena kicintaan-Nya terhadap bangsa ini yang sudah terlalu lama melupakan-Nya? Atau karena musibah itu ternyata akibat dari ulah tangan-tangan jahil manusia?
Yah, Allah swt menegur manusia dengan adanya musibah itu, benar. Dan ternyata berbagai bencana itu akibat ulah tangan manusia juga benar. Sehingga benar informasi Allah swt dalam surat Ar-Rum: 41.
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
Introspeksi Diri
Sejarah mengajarkan kepada kita, bahwa para sahabat radhiyallahu anhum ketika mengalami musibah, kekalahan dalam pertempuran, atau yang lainnya, seketika itu mereka sadar, boleh jadi ada saham kesalahan yang mereka lakukan. Ketika mereka mengalami kekalahan dalam perang Uhud misalkan, mereka langsung mengevaluasi, memperbaiki diri dan mempersiapkan kemenangan.
Langkah strategis untuk mensikapi musibah adalah menyadari kesalahan diri. Tidak terbayang sebelumnya, bahwa gempa akan melanda Jawa Barat sore itu, tapi Allah Berkehendak maka Jadilah! Ketika itu kita berdoa dengan sangat khusyuk, namun kita belum mengakui, boleh jadi ada saham kesalahan yang kita perbuat, tidak juga mengucapkan istirja dengan penuh keyakinan, innaa lillahi wa innaa ilaihi raajiuun.
Jika demikian, kita khawatir seperti kaum terdahulu yang Allah swt. gambarkan dalam Al Quran, yaitu kaum yang ketika dicekam bencana mereka serta merta berdoa dengan sangat khusyu. Ketika berbaring, lagi duduk, atau sambil berdiri, praktis dalam semua kondisi mereka berdoa dan bergumam mengharap kepada Allah swt agar semua musibah segera berlalu. Tapi ketika Allah swt. menghilangkan bencana tersebut, mereka berlenggang, seakan-akan mereka sebelumnya tidak pernah berdoa dan seakan-akan mereka tidak pernah dicekam bencana. Wal iyadzu billah.
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu dari padanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Yunus: 12)
Sikap kita seharusnya adalah meneguhkan jati diri sebagai muslim. Seandainya ummat sadar akan identitas ini, meskipun kelihatannya sederhana, namun sangat berarti dampaknya. Seorang Muslim yang senantiasa menyerahkan kehidupannya kepada Allah dengan sikap sabar, ikhlas, dan tawakkal.

Oktober 11, 2009 - Ditulis oleh KAMMI Polban | Artikel | | 1 Komentar

1 Komentar »

  1. nuhun o atas postingnya yang menarik…
    kenalkan saya Agus Suhanto

    Komentar oleh Agus Suhanto | Oktober 13, 2009 | Balas


Tinggalkan komentar