Jalan-Jalan
27 Desember 2008, penulis dengan salah seorang pejuang jalanan yang lain berkesempatan untuk mengikuti pengajian Sabtu yang diadakan oleh PP Pemuda PERSIS Bandung di Masjid Pajagalan, Kota Bandung. Banyak sesuatu di sana. Terutama cinta. Cinta sesama muslim.
Ada tiga pembicara yang mengisi pengajian Sabtu ini yaitu Ustadz Adian Husaini, Kang Latif Awaluddin dan Ustadz Tiar Anwar. Tema kajian kali ini adalah Refleksi Perjuangan M. Natsir.
Masing-masing pembicara memiliki sudut pandang yang sama dalam memandang M. Natsir sebagai seorang tokoh yang memiliki banyak sisi positif baik untuk bangsanya maupun untuk peradaban agamanya. Tanpa bermaksud mengkultuskan beliau, dan juga tidak mengesampingkan peran-peran shalafush shalih dahulunya. Kajian ini bertujuan untuk membangkitkan kembali ghirah para pejuang-pejuang baik tua maupun muda untuk skala bangsa ini.
Penulis mengutip pendapat masing-masing pembicara. Pertama Ustadz Adhian Husaini, beliau me-list beberapa poin penting dari keteladanan seorang M. Natsir. Pertama, Beliau adalah seorang yang haus akan ilmu, selanjutnya beliau seorang yang ikhlas beramal, lalu beliau adalah seorang yang memiliki kepekaan Da’wah yang tinggi. Terakhir, beliau seorang cerminan pemuda yang tangguh kala mudanya dengan bukti beliau seorang aktivis pergerakan menentang penjajahan kala itu.
Ustadz Adhian juga menyampaikan pesan kepada pemuda yang ada supaya mengikuti jejak teladan yang ditinggalkan oleh M. Natsir. Selanjutnya dari Kang Latif Awaludin, dari beliau penulis mendapatkan beberapa poin penting yang dapat kita ketahui tentang seorang M. Natsir. Sebagai berikut, pertama, meluruskan hubungan Islam dan negara, kedua, mengritik nasionalisme sekuler, ketiga, mengawal demokrasi, keempat, memperhatikan HAM, kelima, memperkuat brevolusi Indonesia, keenam, konseptor NKRI, ketujuh, memperjuangkan Islam sebagai dasar negara, kedelapan Islamisasi Pancasila, kesembilan, melawan pengaruh komunisme, kesepuluh, menolak pemerintahan yang otoriter (Soeharto dan Soekarno), kesebelas, menyoroti kebebasan beragama dan Kristenisasi. Terakhir beliau konsen untuk mendayagunkan da’wah dan politik.
Selanjutnya, Ustadz Tiar Anwar meskipun kesempatan yang diberikan kepada beliau relatif sedikit. Beliau mengangkat tentang cara-cara seorang M. Natsir untuk memenangkan pendidikan yaitu dengan menanamkan pemahaman tauhid yang bersandarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Banyak hal-hal luar biasa lainnya yang dimiliki oleh M. Natsir yang mungkin tidak tersampaikan di forum ini. Meskipun terlepas dari sisi humanis yang kadang memang akibat dampak dari beliau sebagai seorang manusia biasa. Seorang M. Natsir adalah salah satu prototype yang setidaknya bisa dijadikan pribadi yang layak dijadikan rujukan dengan nilai-nilai moralnya yang mungkin tidak ditemui di tokoh-tokoh nasional lainnya.
Semoga kekeringan teladan dari bangsa ini mulai bangkit dari pribadi M. Natsir yang insya Allah ke depannya, bangsa kita tak malu lagi merujuk kepada Rasulullah saw, Abu Bakar ra, Umar bin Khatthab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib dan tokoh-tokoh luar biasa lainnya yang lahir dari peradaban Islam.
Wallahu’alam.