KAMMI Umar Bin Khattab

Terus Bergerak! Tuntaskan Perubahan!!

Momentum 10 November

10 November, seharusnya menjadi momentum terbaik untuk merevitalisasi makna kepahlawanan yang akhir-akhir ini cenderung mulai memudar. Mengenang jasa-jasa para Pahlawan, tidak melulu dengan acara seremonial. Pemuda sekarang yang menikmati indahnya kemerdekaan ternyata tidak sedikit yang acuh bahkan tidak mensyukurinya, malah saling membenci, saling curiga, saling memusuhi, dan yang lebih memprihatinkan saling menyakiti.

Memang tidak mudah untuk menjadi pahlawan. Mungkin lebih mudah bagi kita menjadi pahlawan kesiangan, yaitu orang yang baru mau bekerja (berjuang) setelah peperangan (masa sulit) berakhir atau orang yang ketika masa perjuangan tidak melakukan apa-apa, tetapi setelah peperangan selesai menyatakan diri pejuang.

Kita bertanya pada diri sendiri apakah kita rela mengorbankan diri untuk mengembangkan diri dalam bidang kita masing-masing dan mencetak prestasi dengan cara yang adil, pantas dan wajar. Itulah pahlawan sekarang.

Seperti Anis Matta yang mendeskripsikan seorang Pahlawan…
“Sejarah sesungguhnya ‘merupakan industri para pahlawan’. Dalam ’skala peradaban’ setiap bangsa bergiliran ‘merebut piala kepahlawanan.’ Mereka selalu muncul di saat-saat sulit, atau sengaja (Allah) lahir (kan mereka) di tengah situasi yang sulit. Pahlawan sejati senantiasa pemberani sejati. Keberanian itu fitrah tertanam pada diri seseorang, atau diperoleh melalui latihan. Keduanya ini berpijak kuat pada keyakinan dan cinta yang kuat terhadap prinsip dan jalan hidup, kepercayaan pada hari akhirat, dan kerinduan yang menderu-deru untuk bertemu Allah. Dengarlah nasihat Umar bin Khattab: ‘Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.’
Pahlawan dari generasi sahabat punya dayacipta sarana materi di tiga wilayah: di medan perang, dalam percaturan politik dan di dunia bisnis. Abu Bakar dan Utsman bin Affan biasa menginfakkan total hartanya, bukan sekedar marginnya, untuk memulai usaha dari nol kembali, karena mereka yakin pada kemampuan daya cipta sarana materi mereka. Umar bin Khattab dan Abdurrahman bin Auf selalu menyedekahkan 50% hartanya untuk ummat. Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid; keduanya adalah petarung sejali, pemimpin sejati dan juga pebisnis sejati.
Berkata Umar: “Tak ada pekerjaan yang paling aku senangi setelah perang di jalan Allah, selain dari bisnis.” Ini menjelaskan mengapa generasi sahabat bukan hanya mampu memenangkan seluruh pertempuran, tapi juga mampu menciptakan kemakmuran setelah mereka berkuasa.
Pahlawan mukmin sejati tidak membuang energi mereka untuk memikirkan apakah ia akan ditempatkan dalam sejarah manusia, apakah ia akan ditempatkan dalam liang lahat Taman Pahlawan. Yang mereka pikirkan ialah bagaimana meraih posisi paling terhormat di sisi Allah SWT. Kata kunci mencapai ini adalah keikhlasan. Inilah yang membedakan mereka dengan pahlawan sekuler. Sama menderita masuk penjara, sama terbuai di tiang gantungan, tapi yang satu karena dunia fana, dan yang satu lagi karena Allah semata…”

Jangan menanti kedatangan Pahlawan, karena pahlawan itu tidak akan pernah datang, pahlawan itu bahkan sudah ada di sini. Pahlawan itu lahir dan besar di negeri ini. Pahlawan itu adalah aku, kau, dan kita semua. Bukan orang lain!
Kita hanya belum memulai.
“Tidak perlu Soekarno, Hatta, Diponegoro,Imam Bonjol bangkit dari liang kubur. Sudah saatnya kita yang menjadi pengganti mereka dengan membangun kapasitas diri sebagai seorang Pahlawan”.
Seorang pahlawan mengubah tantangan menjadi peluang, kelemahan menjadi kekuatan, kecemasan menjadi harapan, ketakutan menjadi keberanian, dan krisis menjadi berkah.
Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis.

Untukmu pemuda yang hidup di zaman ini, yang tengah menikmati kemerdekaan, jadilah pahlawan dengan turut serta berkarya pun berkontribusi lebih untuk negeri ini.
(Staf Kastra KAMMI POLBAN 07)

November 13, 2008 - Ditulis oleh KAMMI Polban | Artikel | | 1 Komentar

1 Komentar »

  1. assalamu’alaikum,
    Luar biasa, ana bisa lebih santai ke depannya nih…
    dah ada pahlawan baru nih….
    keep hamasah mujahid/mujahidah polban!!!!!

    Komentar oleh Malcolm | November 23, 2008 | Balas


Tinggalkan komentar