KAMMI Umar Bin Khattab

Terus Bergerak! Tuntaskan Perubahan!!

Untukmu Rasulullah

Lama sudah,

remuk redam hati ini,

luka hati perih mengurai

jangan menangis

ucapan hati

untukmu Rasullullah,

terhunus parang untuk penghina mu

ada AK-47

yang siap meledakkan kepalanya

ada RPG

untuk mereka penghinamu

siaplah C-4

hancurlah semua penghinamu

kami siap menghunus darah kami

kami siap menghantam badan kami

November 30, 2008 Ditulis oleh KAMMI Polban | Artikel | | & Komentar

Amal shaleh di 10 hari pertama dzulhijjah

1.       Perbanyak membaca 4T (tasbih, tahmid, tahlil, takbir)

2.       Puasa sunnah Arafah

3.       Puasa sunah arafah keutamaannya sama dengan menghapus dosa tahun kemari dan satu tahun yang akan dating

4.       Memperbanyak amal karena pahalanya akan dilipat gandakan

5.       Shalat Idul Adha, dengrkan khutbah, dan berkurban pada hari nahar

6.       Takbir dan berkurban pada hari tasyrik

 

Kemuliaan bulan dzulhijjah, khususnya pada 10 hari pertama telah diabadikan dalm Al-Qur’an surah Al-fajr ayat 1-4

Dari abbas RA berkata Rosullullah SAW bersabda tiada hari dimana amal shaleh lebih dicintai ALLAH melebihi hari-hari ini yaitu 10 hari pertama dzulhijjah. Sahabat bertanya, ya Rosulullah SAW tidak juga jika dibandingkan dengan jihad di jalan ALLAH? Rosulullah SAW menjawab, “tidak juga dengan jihad kecuali seorang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya serta tidak kembali (gugur sebagai syahid)” (HR. Bukhari) 

November 28, 2008 Ditulis oleh KAMMI Polban | Artikel | | No Comments Yet

Momentum 10 November

10 November, seharusnya menjadi momentum terbaik untuk merevitalisasi makna kepahlawanan yang akhir-akhir ini cenderung mulai memudar. Mengenang jasa-jasa para Pahlawan, tidak melulu dengan acara seremonial. Pemuda sekarang yang menikmati indahnya kemerdekaan ternyata tidak sedikit yang acuh bahkan tidak mensyukurinya, malah saling membenci, saling curiga, saling memusuhi, dan yang lebih memprihatinkan saling menyakiti.

Memang tidak mudah untuk menjadi pahlawan. Mungkin lebih mudah bagi kita menjadi pahlawan kesiangan, yaitu orang yang baru mau bekerja (berjuang) setelah peperangan (masa sulit) berakhir atau orang yang ketika masa perjuangan tidak melakukan apa-apa, tetapi setelah peperangan selesai menyatakan diri pejuang.

Kita bertanya pada diri sendiri apakah kita rela mengorbankan diri untuk mengembangkan diri dalam bidang kita masing-masing dan mencetak prestasi dengan cara yang adil, pantas dan wajar. Itulah pahlawan sekarang.

Seperti Anis Matta yang mendeskripsikan seorang Pahlawan…
“Sejarah sesungguhnya ‘merupakan industri para pahlawan’. Dalam ’skala peradaban’ setiap bangsa bergiliran ‘merebut piala kepahlawanan.’ Mereka selalu muncul di saat-saat sulit, atau sengaja (Allah) lahir (kan mereka) di tengah situasi yang sulit. Pahlawan sejati senantiasa pemberani sejati. Keberanian itu fitrah tertanam pada diri seseorang, atau diperoleh melalui latihan. Keduanya ini berpijak kuat pada keyakinan dan cinta yang kuat terhadap prinsip dan jalan hidup, kepercayaan pada hari akhirat, dan kerinduan yang menderu-deru untuk bertemu Allah. Dengarlah nasihat Umar bin Khattab: ‘Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.’
Pahlawan dari generasi sahabat punya dayacipta sarana materi di tiga wilayah: di medan perang, dalam percaturan politik dan di dunia bisnis. Abu Bakar dan Utsman bin Affan biasa menginfakkan total hartanya, bukan sekedar marginnya, untuk memulai usaha dari nol kembali, karena mereka yakin pada kemampuan daya cipta sarana materi mereka. Umar bin Khattab dan Abdurrahman bin Auf selalu menyedekahkan 50% hartanya untuk ummat. Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid; keduanya adalah petarung sejali, pemimpin sejati dan juga pebisnis sejati.
Berkata Umar: “Tak ada pekerjaan yang paling aku senangi setelah perang di jalan Allah, selain dari bisnis.” Ini menjelaskan mengapa generasi sahabat bukan hanya mampu memenangkan seluruh pertempuran, tapi juga mampu menciptakan kemakmuran setelah mereka berkuasa.
Pahlawan mukmin sejati tidak membuang energi mereka untuk memikirkan apakah ia akan ditempatkan dalam sejarah manusia, apakah ia akan ditempatkan dalam liang lahat Taman Pahlawan. Yang mereka pikirkan ialah bagaimana meraih posisi paling terhormat di sisi Allah SWT. Kata kunci mencapai ini adalah keikhlasan. Inilah yang membedakan mereka dengan pahlawan sekuler. Sama menderita masuk penjara, sama terbuai di tiang gantungan, tapi yang satu karena dunia fana, dan yang satu lagi karena Allah semata…”

Jangan menanti kedatangan Pahlawan, karena pahlawan itu tidak akan pernah datang, pahlawan itu bahkan sudah ada di sini. Pahlawan itu lahir dan besar di negeri ini. Pahlawan itu adalah aku, kau, dan kita semua. Bukan orang lain!
Kita hanya belum memulai.
“Tidak perlu Soekarno, Hatta, Diponegoro,Imam Bonjol bangkit dari liang kubur. Sudah saatnya kita yang menjadi pengganti mereka dengan membangun kapasitas diri sebagai seorang Pahlawan”.
Seorang pahlawan mengubah tantangan menjadi peluang, kelemahan menjadi kekuatan, kecemasan menjadi harapan, ketakutan menjadi keberanian, dan krisis menjadi berkah.
Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis.

Untukmu pemuda yang hidup di zaman ini, yang tengah menikmati kemerdekaan, jadilah pahlawan dengan turut serta berkarya pun berkontribusi lebih untuk negeri ini.
(Staf Kastra KAMMI POLBAN 07)

November 13, 2008 Ditulis oleh KAMMI Polban | Artikel | | 1 Komentar

Ahlan Wa Sahlan Kader KAMMI 2008

Welcome to..

The Action Group Of Indonesian Moslem Student… (Komisariat POLBAN)

 

Menjadi Penolong agama ALLAH adalah satu-satunya profesi yang selalu membuka lowongan bagi pekerja baru. setiap saat, setiap hari. Namun, menyambung rantai perjuangan para rasul bukan pekerjaan mudah..bila dakwah ibarat pohon, ada saja daun-daun nya yang gugur berjatuhan. Tapi pohon dakwah itu tak pernah kehabisan cara untuk menumbuhkan tunas-tunas baru, sementara daun-daun yang gugur berjatuhan tak lebih hanya akan menjadi sampah sejarah…

Antum sekalian diibaratkan sebagai tunas-tunas baru itu..yang akan senantiasa istiqamah dalam menyambung rantai perjuangan dakwah ini.

Ahlan wa sahlan Yaa Ruhul Jadiid, semoga Allah merahmati dan menjaga keistiqamahan kita.. Amiin..

wallahu’alam bishowab

 

November 10, 2008 Ditulis oleh KAMMI Polban | Kegiatan | | No Comments Yet