KAMMI Umar Bin Khattab

Terus Bergerak! Tuntaskan Perubahan!!

Nasi Sudah Menjadi Bubur

Saat keterlanjuran sudah berlalu, kita sering mengatakan “Nasi sudah menjadi bubur”. Betulkah ungkapan ini? Atau sekedar mencari pembenaran untuk tidak memperbaiki yang sudah ada? Insya Allah setelah membaca cerita berikut, kita akan memiliki pandangan berbeda terhadap suatu keterlanjuran.

Seorang mahasiswa kuliahnya tidak serius. Kadang masuk kuliah kadang tidak, tugas terbengkalai, SKS yang harus dikejar masih banyak, dan jarang sekali belajar. Begitu ditanya ternyata dia merasa terjebak masuk ke jurusan yang dipilihnya karena dia hanya ikut-ikutan saja. Teman-temannya masuk jurusan tersebut, dia pun ikut.

“Mengapa kamu tidak pindah saja?” tanya temannya, Budi.

“Ah, biarlah, nasi sudah menjadi bubur” jawabnya, tidak peduli.

“Apakah kamu akan tetap seperti ini?”

“Mau gimana lagi, saya bilang nasi sudah jadi bubur, tidak bisa diperbaiki lagi.” jawabnya berargumen.

“Kalau kamu pindah kejurusan yang kamu sukai, kan kamu akan lebih enjoy.” kata temannya.

“Saya ini sudah tua, masa harus kuliah dari awal lagi. Saya terlambat menyadari kalau saya salah masuk jurusan.” jelasnya sambil merebahkan diri di kasur dan mengambil remote control TV-nya.

“Memang tidak ada yang bisa kamu lakukan lagi?” selidik temannya.

“Tidak, saya sudah katakan berulang-ulang nasi sudah jadi bubur.”

Temannya pun diam sejenak, dia bingung melihat temannya yang sudah tidak semangat lagi. Kemudian dia teringat pada temannya yang memiliki nasib yang sama, salah memilih jurusan. Dia pun pulang ke rumahnya kemudian menelpon temannya tersebut.

“Jaka, perasaan kamu pernah cerita sama saya, kalau kamu salah memilih jurusan?” tanya Budi kepada Jaka.

“Memang saya salah memilih jurusan, memangnya kenapa?” jawab Jaka.

“Yang saya heran, kenapa kamu tetap semangat kuliah, sedangkan teman saya malah malas dan tidak serius kuliahnya.”

“Yah nggak tahu yah, saya juga dulu sempat seperti itu. Tapi sekarang sudah tidak lagi.” jelas Jaka.

“Apa sich resepnya?”

“Pertama saya merelakan diri masuk jurusan ini. Mungkin ini yang terbaik menurut Allah. Jadi saya terima saja.”

“Terus?” kata Budi bersemangat

“Yang kedua, saya mencari cara menggabungkan ilmu yang saya miliki dijurusan ini, dengan hobi saya. Ternyata saya menjadi enjoy saja. Memang, saya terlanjur memilih jurusan ini, kata orang, nasi sudah jadi bubur. Tetapi kalau saya, nasi sudah menjadi bubur ayam spesial yang enak dan lebih mahal harganya ketimbang nasi.”

“Oh gitu….”

“Yah, kalau kita menyesali tidak ada manfaatnya. Kalau kita berusaha mengubah bubur jadi nasi, itu tidak mungkin. Satu-satunya cara ialah membuat bubur tersebut menjadi lebih nikmat, saya tambahkan ayam, ampela, telor, dan bumbu. Rasanya enak dan lebih mahal” jelas Jaka sambil tersenyum lebar.

Februari 28, 2008 Ditulis oleh KAMMI Polban | Motivasi | | Belum Ada Tanggapan

Agenda ‘Asingisasi’ di Balik Tuntutan Pembubaran LSF

Kelompok seniman dan artisyang menginginkan atau sekedar mendukung pembubaran Lembaga Sensor Film (LSF) secara tidak langsung telah memuluskan agenda penjajahan kultural di Indonesia, mengganti kultur masyarakat Indonesia dengan kultur asing.”Target pembubaran LSF adalah asingisasi. Mereka mengadopsi liberalisme dan tidak mau mengakui akar kultur masyarakat Indonesia, ” kata anggota Pengurus Pusat Lembaga Seniman dan Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) Wowok Hesti Prabowo, menyikapi proses judicial review UU Film Nomor 8 tahun 1992 tentang keberadaan LSF.

Pembubaran LSF, menurut Wowok, memang sangat tidak populis dan pemerintah tidak perlu mengabulkannya. Sebab, tuntutan itu hanya terkait penarikan simpati masyarakat, yakni dengan memerankan diri sebagai kelompok yang berjuang demi kebebasan, dengan target pendeknya adalah membuka kran kebebasan berkesenian sedikit demi sedikit.

“Target panjangnya adalah meniadakan LSF sama sekali, mereka yang mengadopsi liberalisme itu menginginkan adanya kebebasan tanpa batas, “tegasnya.

Padahal, lanjutnya, jargon pembebasan masyarakat yang selama ini didengungkannya cuma retorika, karena seperti diketahui bahwa pada saat masyarakat keberatan dengan kenaikan harga bahan bakar minyak.

Ia menambahkan, kalangan seniman dan pebisnis hiburan yang menginginkan liberalisme, sebenarnya hanya segelintir orang namun mereka disuport oleh jaringan dana yang kuat dan media massa. “Jadi ada semacam diktator minoritas, “imbuh Wowok yang juga ketua yayasan Komunitas Sastra Indonesia (KSI).

Ia menyatakan, kreasi seni untuk menyampaikan gagasan serta mengekspos nilai-nilai penting tidak harus dilakukan dengan aksi yang vulgar. Sebab, kreasi seni yang tinggi itu justru diperankan dengan bahasa simbol dan imajinasi. “Kebebasan yang diinginkan mereka itu justru kemunduran. Jadi perlu dibedakan antara kreasi seni dan sampah, ” imbuhnya.

NU-KPI Awasi SiaranTelevisi

Sebelumnya Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi saat menandatangani MoU dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), di Jakarta, Selasa (26/2) mengeluhkan, saat ini muncul kecenderungan bahwa tayangan televisi atau film dengan penonton paling banyak, justru tidak memiliki unsur pendidikan dan pencerdasan kepada masyarakat.

Melalui kerja sama itu, NU dan KPI akan melakukan gerakan penyadaran kepada masyarakat tentang baik-buruknya dampak tayangan televisi. Saat ini sedang dilakukan pengawasan dan inventarisasi terhadap seluruh tayangan televisi yang dinilai baik untuk masyarakat atau sebaliknya. (sumber:eramuslim)

Februari 28, 2008 Ditulis oleh KAMMI Polban | Artikel | | Belum Ada Tanggapan

Utsman bin Affan

Nama lengkapnya adalah ‘Utsman bin Affanbin Abi Ash bin Umayah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf al Umawy al Qurasy, pada masa Jahiliyah ia dipanggil dengan Abu ‘Amr dan pada masa Islam nama julukannya (kunyah) adalah Abu ‘Abdillah. Dan juga ia digelari dengan sebutan “Dzunnuraini”, dikarenakan beliau menikahi dua puteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum. Ibunya bernama Arwa’ bin Kuraiz bin Rabi’ah bin Habib bin ‘Abdi Syams yang kemudian menganut Islam yang baik dan teguh.

Keutamaannya

Imam Muslim telah meriwayatkan dari ‘Aisyah, seraya berkata,” Pada suatu hari Rasulullah sedang duduk dimana paha beliau terbuka, maka Abu Bakar meminta izin kepada beliau untuk menutupinya dan beliau mengizinkannya, lalu paha beliau tetap dalam keadaan semula (terbuka). Kemudian Umar minta izin untuk menutupinya dan beliau mengizinkannnya, lalu paha beliau tetap dalam keadaan semula (terbuka), ketika Utsman meminta izin kepada beliau, amaka beliau melepaskan pakaiannya (untuk menutupi paha terbuka). Ketika mereka telah pergi, maka aku (Aisyah) bertanya,”Wahai Rasulullah, Abu Bakar dan Umar telah meminta izin kepadamu untuk menutupinya dan engkau mengizinkan keduanya, tetapi engkau tetap berada dalam keadaan semula (membiarkan pahamu terbuka), sedangkan ketika Utsman meminta izin kepadamu, maka engkau melepaskan pakainanmu (dipakai untuk menutupinya). Maka Rasulullah menjawab,” Wahai Aisyah, Bagaimana aku tidak merasa malu dari seseorang yang malaikat saja merasa malu kepadanya”.

Ibnu ‘Asakir dan yang lainnya menjelaskan dalam kitab “Fadhail ash Shahabah” bahwa Ali bin Abi Thalib ditanya tentang Utsman, maka beliau menjawab,” Utsman itu seorang yang memiliki kedudukan yang terhormat yang dipanggil dengan Dzunnuraini, dimana Rasulullah menikahkannya dengan kedua putrinya.

Perjalanan hidupnya

Perjalanan hidupnya yang tidak pernah terlupakan dalam sejarah umat islam adalah beliau membukukan Al-Qura’an dalam satu versi bacaan dan membuat beberapa salinannya yang dikirim kebeberapa negeri negeri Islam. Serta memerintahkan umat Islam agar berpatokan kepadanya dan memusnahkan mushaf yang dianggap bertentangan dengan salinan tersebut. Atas Izin allah Subhanahu wa ta’ala, melalui tindakan beliau ini umat Islam dapat memelihara ke autentikan Al-Qur’an samapai sekarang ini. Semoga Allah membalasnya dengan balasan yang terbaik.

Diriwayatkan dari oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnadnya dari yunus bahwa ketika al Hasan ditanya tentang orang yang beristirahat pada waktu tengah hari di masjid ?. maka ia menjawab,”Aku melihat Utsman bin Affan beristirahat di masjid, padahal beliau sebagai Khalifah, dan ketika ia berdiri nampak sekali bekas kerikil pada bagian rusuknya, sehingga kami berkata,” Ini amirul mukminin, Ini amirul mukminin..”

Diriwayatkan oleh Abu Na’im dalam kitabnya “Hulyah al Auliyah” dari Ibnu Sirin bahwa ketika Utsman terbunuh, maka isteri beliau berkata,” Mereka telah tega membunuhnya, padahal mereka telah menghidupkan seluruh malam dengan Al-Quran”.

Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, seraya ia berkata dengan firman Allah”. “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Qs Az-Zumar:9) yang dimaksud adalah Utsman bi Affan.

Wafatnya

Ia wafat pada tahun 35 H pada pertengahan tasyriq tanggal 12 Dzul Hijjah, dalam usia 80 tahun lebih, dibunuh oleh kaum pemberontak (Khawarij).

Februari 28, 2008 Ditulis oleh KAMMI Polban | Profil | | 1 Komentar

Belajar dari Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz adalah cucu dari sahabat Rasulullah yaitu Umar bin Khatab ra. Beliau adalah seorang khalifah yang arif dan bijaksana. Pada suatu malam datanglah anaknya ke ruangan kerjanya. Maka bertanyalah Umar: “Wahai anakku apakah kau datang kemari untuk membicarakan tentang masalah keluarga atau negara?” “Ananda datang kemari untuk masalah keluarga ayah.” Jawab sang anak. Maka Umar langsung memadamkan lampu diruangan itu dan menyalakan sebuah lilin. Si anak pun bertanya: “Apa yang telah kau lakukan ayah?” “Anakku lampu ini dari uang rakyat. kita tak boleh menggunakannya untuk kepentingan pribadi. Kita hanya memiliki lilin. inilah harta kita. Dan lampu itu adalah harta negara yang hanya digunakan untuk negara. Walau ini hal sepele, kita tak boleh mengkhianati amanah rakyat.” Jawab umar dengan tegas.

Dari petikan cerita diatas kita dapat mengambil hikmah yang sangat dalam. Pada hari ini banyak kita lihat mobil-mobil yang berplat merah digunakan untuk kepentingan pribadi seperti berwisata, belanja ke mall, mengunjungi sanak saudara dan masih banyak lain. Padahal sumber pendanaan mobil itu dari uang rakyat. Tapi  para wakil rakyat telah menyalahi amanah rakyat. Sangat ironis mendengarnya. Padahal mereka berada di Dewan untuk menyuarakan suara rakyat tapi pada kenyataannya mereka lelap tertidur lelap pada sidang tentang rakyat. Mereka ada di Dewan karena suara rakyat bukan karena uang kantong sendiri. Maka sudah seharusnya juga mereka menyuarakan aspirasi rakyat. Mari kita memegang amanah dengan sebaik-baiknya seperti Umar bin Abdul Aziz. Karena pada akhirnya kita semua akan diminta pertanggungjawaban dari amanah-amanah tersebut oleh Allah kelak. Wass

Februari 28, 2008 Ditulis oleh KAMMI Polban | Hikmah | | Belum Ada Tanggapan

SEMANGAT MAHASISWA ADALAH PEMBAHARUAN BUKAN AKSI ANARKIS

Kita telah banyak mendengar dari media elektronik maupun dari media cetak tentang tawuran antar mahasiswa. Hal ini sangat mengiris hati rakyat. Bagaimana tidak? Mahasiswa adalah para intelektual muda yang yang terdidik dan terpelajar. Seharusnya mereka memberikan figur yang baik untuk masyarakat, bukan sikap anarkis yang mereka tunjukan. Mahasiswa adalah jembatan aspirasi rakyat kepada pemerintah. Ini terlihat pada era perjuangan reformasi, para mahasiswa turun kejalan menggelar aksi dan orasi dengan menyuarakan penderitaan rakyat, keinginan rakyat dan suara rakyat kepada pemerintah. Pada saat itu, mahasiswa mempunyai peran yang sangat penting untuk masyarakat. Tapi sekarang mahasiswa lebih suka tauran. Apa mereka lupa dengan semangat reformasi yang mereka usung bersama? Padahal dahulu mereka bersatu padu utuk terus menyuarakan hati nurani rakyat. Tanpa peduli perbedaan-perbedaan yang melekat pada mereka. Harusnya kita berintropeksi, bahwa kita mahasiswa sangat dibutuhkan pengabdiannya oleh masyarakat. Dari pada kita tawuran yang malah ujung-ujungnya merusak fasilitas umum yang pada hakikatnya semua fasilitas itu ada dari uang rakyat. Mari kita kita mahasiswa mengabdikan diri untuk rakyat. Memberikan contoh yang baik untuk masyarakat. Serta mewaspadai adanya provokator yang menginginkan kita tepecah belah dan memberikan citra negatif kepada kita sebagai mahasiswa yang mengabdi kepada masyarakat. Salam Mahasiswa!!

Februari 28, 2008 Ditulis oleh KAMMI Polban | Artikel | | 1 Komentar