Jawa Barat, Wait and See
Penyelesaian kasus-kasus korupsi di Jawa Barat yang terkesan tebang pilih, padahal kenyataannya tidak. Ada baiknya kita beranalogi: makan bubur panas mulailah dari pinggir. Begitulah sedikit reward untuk para penegak hukum yang sebenarnya punya kemampuan lebih. Meski pun di dalam tubuh mereka masih ada sel-sel yang membusukkan diri. Kita tunggu kesembuhan dari mereka, ibarat dokter, mereka tahu obat untuk menyembuhkannya. Nah, kita sebagai pressure group (antibodi untuk para aparat penegak hukum dan baju anti pelurunya), tidak ada kata henti untuk tetap terus terjun turun menekan dan menerjang, meski kita pun tahu bahwa ada juga di antara kita yang masih apatis (nga ngerti). Sebenarnya, kita tinggal menunggu, yah setidak-tidaknya bagi orang-orang yang NATO (No Action Talk Only). Menunggu bukan berarti diam. Kita gerakkan diri seproporsional mungkin. Tanpa harus saling menghujat, mencaci masing-masing tipikal, dan meremehkan.
Mengubah Paradigma Bertindak Mahasiswa…
Ideologi yang sudah tertanam sudah bukan sesuatu yang diperdebatkan dikalangan para ”aktivis” pergerakan. Namun, satu poin penting yang menjadi kegundahan kita semua, dalam bersikap kita seperti ilalang yang sangat lemah, tidak punya kejelasan dalam melakukan aksi dengan jasad karunia Allah swt.
Kita sering terjebak dengan diskusi-diskusi dan debat-debat yang bisa dikatakan tidak bisa diselesaikan dengan mulut by mulut. Bisa jadi itu semua adalah jebakan. Kita berselingkuh dengan keagungan kata-kata dan lupa dengan keringat yang begitu berharga. Tawaran, orang sering mempertanyakan itu semua kepada kita (mahasiswa). Kemiskinan yang berlarut-larut. Ketertinggalan berkreasi dengan teknologi yang berjangka masa depan. Korupsi yang semakin beringas mengigit perut rakyat. Dan masih banyak lagi. Menunggu solusi yang bergigi dari ujung benak kita masing-masing.
Ironis sekali, jika kita mengaca diri. Melihat keadaan kita yang dikaparkan oleh waktu.
Semoga ada perubahan untuk kita.
Amin…
Cermin
Dua sifat cermin yang mestinya melekat pada pemimpin. Pertama, menempilkan bayangan apa adanya. Cermin tidak pernah berboong. Tak ada yang ditutupi. Transparan. Jujur. Sifat ini seharusnya dimiliki oleh pemimpin. Jujur tak sekedar lipstick, manis di wajah tapi borok di dalam. Jujur dalam tindakan, bermakna selarasnya ucapan dan perbuatan, antara janji dan kenyataan. Transparan tak berarti buka-bukaan, tapi mampu menampilkan yang perlu di tunjukkan dan mendiamkan yang tidak semestinya di buka. Tak bisa disebut sikap transparan kalau seorang manajer sebuah perusahaan, misalnya menceritakan kondisi kerugian perusahaannya kepada seluruh bawahannya yang bisa membuat mereka resah. Lebih disayangkan lagi kalau ‘keterbukaan’ ini justru dilakukan saat kondisi perusahaan sedang buntung dan malah ditutupi kala situasi sedang untung. Begitu pentingnya transparansi dalam kepemimpinan, sehingga Rasulullah saw pernah menvonis seseorang masuk neraka karena menyembunyikan harta rampasan perang pada perang Tabuk. Ia dianggap menyembunyikan harta negara dan layak dihukum keras. Sejarahnya pun dijadikan cermin buruk bagi seseorang yang sudah mengabdi selama bertahun-tahun pada Islam mengakhiri hidupnya dengan su’ul khatimah. Kedua, selain menampilkan bayangan apa adanya, cermin juga memposisikan diri sebagai alat instropeksi diri. Sebelum keluar rumah, cermin menjadi amat penting. Orang seakan tidak percaya diri sebelum melihat dirinya di hadapan cermin. Pemimpin seharusnya begitu. Ia sejatinya menjadi cerminan bagi bawahannya. Ini makna ungkapan Rasulullah saw yang diriwayatkan Abu Daud dan Thirmidzi, “Al Mukminu mir’atun li akhihi. Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya.” Begitu pentingnya tampilan pemimpin, lantaran seluruh tindakannya menjadi pusat perhatian. Karenanya, di antara tolak ukur keberhasilan seorang pemimpin adalah kemampuannya untuk memantulkan nilai-nilai kebaikan untuk diikuti oleh orang lain. Dalam kaidah ini, kita menemukan fakta betapa Rasululla saw adalah pemimpin sukses. Perilakunya tak sekedar diikuti oleh mereka yang hidup semasa dengan dirinya, tapi juga oleh jutaan orang yang tidak pernah melihatnya. Perilakunya jadi cermin. Tindakannya jadi acuan kebenaran. Sikapnya jadi barometer keshalihan. Semua itu terpatri dalam sikap nyata pada keseharian dan bukan tertuang dalam lembaran teks yang tak pernah di praktikkan.
Kasih Sayang Umar
Ketika Kilab bin Umayah al-Kinan sedang berada di medan perang, ayahnya yang sudah tua merasa rindu dan meratapi kepergiannya yang cukup lama. Kerinduan seorang ayah tampaknya benar-benar tidak tertahankan. Bak suara gemericing yang terus terdengar, berita itu pun sampai ke telinga Umar bin Khaththab. Kala itu, dia sedang menjabat sebagai khalifah kaum Muslimin. Tak menunggu lama, Umar segera melayangkan suratnya kepada panglima perangnya untuk memulangkan Kilab bin Umayah ke Madinah. Ketika memaparkan kisah itu, Abbas Mahmud al-Aqqad dalam Aqbariyat Umar tak menyebutkan nama perang dan panglima tersebut. Hanya saja dipaparkan, begitu menerima perintah itu, Kilab langsung kembali ke Madinah dan menghadap Umar bin Khaththab. ”Sejauh mana sikap baktimu kepada ayahmu?” tanya Umar. ”Aku selalu memenuhi kebutuhannya. Setiap kali hendak memberikan susu unta kepada ayah, aku selalu melepaskan unta-unta itu selama beberapa saat (agar bisa makan supaya susunya lebih baik). Setelah unta-unta itu tenang, aku cuci (puting) susunya hingga bersih. Baru setelah itu kuperas dan kuberikan kepada ayahku,” papar Kilab. Mendengar hal itu, Umar segera memanggil ayah Kilab untuk menemuinya. Dengan langkah yang lemah karena usia yang lanjut, orang tua itu pun memenuhi panggilan Umar. Penglihatannya yang sudah kabur mengharuskannya menunduk. Dengan penuh kasih sayang, Umar menyapanya, ”Bagaimana keadaaanmu, wahai ayah Kilab?” ”Sebagaimana yang Amirul Mukminin lihat,” jawabnya singkat. Saat itu, Umar belum memberi tahu kedatangan Kilab. Lalu, Umar menyungguhkan sebuah mangkuk susu yang baru saja diperaskan oleh anaknya. Saat bibirnya menyentuh pinggiran mangkok, laki-laki tua itu mencium bau yang tak asing baginya. Spontan orang tua itu berkata, ”Demi Allah, aku mencium bau tangan anakku, Kilab, dipinggir mangkuk ini.” ”Benar, Abu Kilab, di samping telah hadir anakmu yang baru saja datang,” ujar Umar yang segera memerintahkan Kilab keluar menemui ayahnya. Kilab segera melompat memeluk ayahnya. Sang ayah sudah tidak bisa melihat dengan jelas, menyambut pelukan anaknya dan menciuminya dengan penuh kerinduan. Umar yang melihat kejadian itu hanya diam termangu. Keharuannya tidak dapat di bendung. Kedua matanya merah menahan haru. Dan, tetesan bening pun mengalir membasahi kedua pipi sang Khalifah. Setelah isak keharuannya reda, Umar menyeka wajahnya. Ia pun memerintahkan Kilab agar menjaga orang tuanya selama ia masih hidup. Umar juga memberikan santunan kepada pemida itu sebagai mujaid fi sabilillah. Dalam bentangan sejarah, Umar dikenal sebagai sosok tegas, berwatak keras dan tak ada kompromi menentang segala sesuatu yang bertentangan dengan dengan keinginannya. Prinsip ini tetap ia pegang, baik ketika sebelum masuk Islam maupun setelah mendapat hidayah. Hanya saja di masa jahiliyah, ia begitu keras memusuhi Islam, maka setelah masuk Islam, Umar menjadi pembela kaum Muslimin. ”Kami senantiasa mulia sejak Umar masuk Islam,” kenang Ibnu Mas’ud lalu menambahkan, ”Masuknya Umar dalam Islam adalah pembukaan. Hijrahnya adalah kemenangan, kekuasaannya adalah rahmat. Sungguh kami menyadari diri kami sebelumnya tidak mampu melaksanakan shalat di Ka’bah hingga Umar masuk Islam. Ketika ia masuk Islam, ia memerangi mereka dan membiarkan kami shalat.” Shuhaib bin Sunan juga berkomentar, ”Ketika Umar bin Khaththab masuk Islam, da’wah Islam muncul dan diserukan secara terang-terangan. Kami jadi lebih leluasa duduk melingkar dan berthawah di Ka’bah. Kami juga tertolong dari siapa saja yang berlaku kasar kepada kami,” (Usud al-Ghabah 4/163) Begitulah Umar. Namun mata uang selalu menampakkkan dua mata sisi yang berlawanan. Di samping dikenal keras, tegas dan tanpa kompromi, Umar juga dikenal dengan kasih sayangnya yang begitu lembut. Ia kerap di temukan menangis berurai air mata kala bermunajat di pengujung malam. Kasih sayangnya kepada anak-anak sangat luar biasa. Karenanya, Abbas al-Aqqad masih dalam karyanya Aqbqriyatu Umar, meragukan kisah Umar mengubur hidup-hidup anak perempuannya. Keluarga Bani Adi, tempat Umar berasal, tidak mengenal perlakuan (mengubur anak hidup-hidup). Bagaimana mungkin keluarga al-Khaththab menerapkan tradisi itu? Adik Umar, Fathimah, tetap hidup dan masuk Islam. Putrinya, Hafshah, yang lahir lima tahun sebelum Umar masuk Islam, tak menjadi korban kekejaman itu. ”Kisah itu tidak ada dasar sama sekali,” tegas Abbas al-Aqqad. Justru Umar sangat marah kepada orang yang tidak menampakkan kasih sayang kepada anaknya. Suatu saat, ketika akan melantik seorang gubernur di sebuah wilayah, seorang anak kecil menghampirinya. Diciumnya anak itu dengan penuh kasih. Calon gubernur yang akan dilantik oleh Umar itu keheranan. Dia pun bertanya, ”Apakah Anda selalu mencium anak-anak Anda, wahai Amirul Mukminin? Aku mempunyai sepuluh orang anak, tapi tak pernah mencium mereka.” ”Apa salahku berbuat begitu (mencium anak-anak). Allah mengangkat rahmat-Nya dari hatimu. Ketahuilah, Allah akan melimpahkan kasih sayang bagi hamba-hamba-Nya yang hatinya penyayang.” Lalu, Umar menyuruh merobek-robek surat pengangkatan calon gubernur itu. ”Dia tidak memiliki rasa kasih sayang kepada anak-anaknya sendiri. Bagaimana mungkin ia akan menaruh kasih sayang kepada rakyatnya?” ujar Umar Ini merupakan cermin bening bagi kaum Muslimin. Kini banyak diantara kita yang kehilangan rasa kasih sayang. Wujud kasih sayang pada anak, lebih sering ditunjukkan melalui materi ketimbang kasih sayang dalam bentuk pelukan, ciuman dan segenab sikap kasih sayang lainnya. Seperti kata Umar, kalau kepada anak saja kita tidak pernah menunjukkan rasa kasih sayang apalagi pada orang lain. Padahal Allah akan menyayangi orang yang menyayangi sesama. Sebuah ungkapan menyebutkan, ”Sayangilah mereka yang ada di bumi, niscaya Yang di langit akan menyayangi kalian.”